Bank Dunia Ingatkan Perlambatan Pertumbuhan Indonesia

Image title
Oleh
23 Juni 2014, 19:52
Pertumbuhan Ekonomi
Donang Wahyu|KATADATA
KATADATA | Donang Wahyu

KATADATA ?   Bank Dunia mengingatkan perlambatan pertumbuhan yang akan dialami Indonesia. Terlebih sebagian pertumbuhan Indonesia didorong faktor eksternal seperti ledakan komoditas pada 2003-2011 yang terjadi bersamaan dengan rendahnya suku bunga global sejak tahun 2009 sehingga mendukung pendapatan dunia usaha.

"Pendapatan yang diterima rumah tangga penerimaan pemerintah, selanjutnya mendorong peningkatan permintaan dalam negeri yang cukup tajam," ujar Ekonom Utama Bank Dunia untuk Indonesia Ndiame Diop di Jakarta, Senin 23 Juni 2014.

Perlambatan pertumbuhan itu banyak dialami negara berpenghasilan menengah. Contohnya Brasil yang tumbuh pesat pada 1960-1970. Sejak 1981 ketika PDB per kapita mencapai US$ 3.939 atau sedikit di atas PDB per kapita Indonesia sekarang, Brasil mulai mencatat perlambatan pertumbuhan berkepanjangan selama lebih dari 20 tahun setelah 1981 ketika PDB per kapitanya US$ 6.964. Negara lain yaitu Afrika Selatan, Meksiko juga mencatat trend serupa.

Ndiame Diop mengingatkan jika ekonomi Indonesia tak tumbuh lebih cepat dari 5-6 persen, maka ekonomi Indonesia tak lepas dari perangkap pendapatan negara menengah. Untuk meningkatkan pertumbuhan, diperlukan kebijakan tambahan. Anggaran BBM sendiri jauh lebih besar dibanding pos kesehatan dan infrastruktur. Padahal dari 51 persen pengguna subsidi BBM 20 persen diantaranya orang kaya. Jika subsidi sebesar 2,6 persen dari produk domestik bruto (PDB) itu dialihkan ke infrastruktur dan kesehatan, maka bisa membuat perubahan besar. "Pengalihan subsidi memang sulit dilakukan, tapi hal itu akan lebih adil," ujarnya.

Infrastruktur yang tak memadai, lanjutnya juga menghambat pertumbuhan. Jumlah investasi di bidang infrastruktur selama dekade terakhir baik pemerintah pusat, daerah maupun swasta kurang dari 2 persen dari produk domestik bruto (PDB). Jumlah ini hanya setengah dari yang dibutuhkan.

Diperkirakan Indonesia telah kehilangan 1  persen pertumbuhan setiap tahun karena investasi yang rendah ini. Peningkatan infrastruktur jalan sejak 2001 hingga 2011 hanya mengalami kenaikan sebesar 30 persen. Sedangkan penambahan kendaraan mencapai 300 persen.

Bank Dunia juga menyoroti peningatan daya saing melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dengan berbagai pelatihan, agar sesuai dengan permintaan tenaga kerja. Sebab menurut  Ndame, 15 persen dari masyarakat yang berpendidikan tinggi, mengalami ketidakcocokan dari sektor swasta terkait kompetensi lulusan.

Indonesia juga harus serius melakukan reformasi pepajakan karena rasio pajak Indonesia baru mencapai 11,7 persen. Hal itu diperlukan sebagai dana tambahan untuk melaksanakan program-program prioritas.

Jika Indonesia berani melakukan reformasi dan mencapai tingkat pertumbuhan mendekati 9 persen, Bank Dunia memprediksi Indonesia bisa terhindar dari perangkap pendapatan menangah, dan masuk dalam negara berpenghasilan tinggi pada 2030.

Reporter: Rikawati
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait