Kemlu Dalami Informasi Belasan WNI Tewas di Tahanan Imigrasi Malaysia

Laporan KBMB mengungkapkan para WNI tersebut meninggal dunia karena diduga mengalami penganiayaan saat berada di dalam rumah tahanan imigrasi Malaysia.
Aryo Widhy Wicaksono
28 Juni 2022, 18:11
Sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) bermasalah bersiap untuk turun dari truk Imigresen Malaysia di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kamis (28/4/2022).
ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang/tom.
Sejumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) bermasalah bersiap untuk turun dari truk Imigresen Malaysia di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kamis (28/4/2022).

Kementerian Luar Negeri RI telah mempelajari laporan Koalisi Buruh Migran Berdaulat (KBMB), yang menyebutkan adanya belasan warga negara Indonesia (WNI) meninggal dunia di dalam rumah detensi imigrasi Malaysia.

KBMB mengungkapkan data tersebut dalam laporan mereka berjudul "“Seperti di Neraka: Kondisi di Pusat Tahanan Imigrasi di Sabah, Malaysia".

"Kementerian Luar Negeri menghargai KBMB dalam upaya ikut melindungi WNI di luar negeri. Kementerian Luar Negeri memandang serius laporan tersebut dengan segera menindaklanjutinya kepada otoritas dan pihak-pihak terkait," bunyi keterangan resmi Kemlu RI, Selasa (28/6).

Selain itu, Kemlu juga menghubungi KBMB untuk mendapatkan rincian data terkait WNI atau pekerja migran Indonesia yang meninggal, serta para deportan yang mengalami penganiayaan selama berada dalam tahanan di Depot Tahanan Imigresen (DTI) di Sabah.

Advertisement

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (BHI) Kemlu RI, Judha Nugraha, menjelaskan bahwa pihaknya akan menelusuri seluruh data hasil temuan ini, dan meminta penjelasan resmi dari otoritas Malaysia.

Perwakilan RI di Sabah, yaitu KJRI Kota Kinabalu dan KRI Tawau, rencananya hari ini akan bertemu Pengarah Jabatan Imigresen Negeri Sabah.

"Pertemuan dimaksudkan untuk meminta keterangan dan kejelasan atas temuan KBMB, sebagai upaya Pemerintah Indonesia dalam melindungi WNI atau pekerja migran Indonesia di wilayah Sabah," ujar Judha dalam keterangan resmi.

Menurut data Bank Indonesia (BI) dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Malaysia menjadi tujuan utama pekerja migran asal Indonesia pada 2021.

Sekitar 1,62 juta orang atau 50,03% dari total pekerja migran Indonesia yang berada di Malaysia.

Sebelumnya, menyitir kantor berita Antara, KBMB melaporkan 18 WNI meninggal dunia di Depot Tahanan Imigrasi Tawau, Sabah, Malaysia sejak Januari 2021 hingga Maret 2022.

Laporan KBMB mengungkapkan para WNI tersebut meninggal dunia karena diduga mengalami penganiayaan. Sejumlah deportan WNI juga diduga menerima bentuk hukuman yang tidak manusiawi, serta penyiksaan.

Menanggapi laporan tersebut, Koordinator Fungsi Konsuler KJRI Kota Kinabalu Yusuf Suryanegara, mengatakan pihak KJRI selalu memantau keadaan WNI di tiga Rumah Tahanan Imigrasi (Depot Imigresen) yang berada di wilayah kerjanya, yaitu di Kota Kinabalu, Papar, dan Sandakan.

"KJRI Kota Kinabalu mengupayakan pemulangan WNI segera setelah proses hukum dan masa hukuman selesai," kata Yusuf seperti dikutip Antara.

Menurutnya, tercatat sekitar 230 WNI berada di tiga Depot Imigresen yang keberadaannya akan terus dalam pantauan KJRI dan akan difasilitasi proses pemulangannya, termasuk pelaksanaan verifikasi dan pemberian dokumen perjalanan.

KJRI Kota Kinabalu juga melakukan pendampingan pada setiap pemulangan yang dilakukan melalui Pelabuhan Tawau, Sabah.

Berdasarkan data KJRI Kota Kinabalu, selama 2022 tercatat satu WNI meninggal di Depot Imigresen Papar. Sementara pada 2021, tercatat ada delapan WNI yang meninggal. Mereka tersebar enam WNI di Depot Imigresen Sandakan, satu di Depot Imigresen Papar, dan satu di Depot Imigresen Kota Kinabalu.

Penyebab kematian tercatat dikarenakan sakit dan terpapar COVID-19.

Reporter: Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait