Larangan Visa dan Pelemahan Ekonomi AS Buat Dolar Bergejolak

Martha Ruth Thertina
30 Januari 2017, 18:18
Dolar Amerika Serikat
ARIEF KAMALUDIN | KATADATA

Indeks dolar Amerika Serikat (AS) bergejolak pasca Presiden Donald Trump mengeluarkan kebijakan larangan visa terhadap enam negara Islam. Tekanan terhadap dolar AS makin kuat lantaran pertumbuhan ekonomi negara tersebut nyatanya melemah pada kuartal IV 2016 lalu.

Mengacu pada data Bloomberg, indeks dolar AS sempat melorot hingga 0,36 persen pada Senin (30/1) siang tadi, meski kembali menguat sebesar 0,04 persen sore ini. Pelemahan terbesar di antaranya terjadi atas yen Jepang yaitu 0,24 persen. Di sisi lain, indeks saham AS diproyeksi bakal mengalami pelemahan. Hal itu tampak dari indeks Dow Jones mini yang melemah 0,20 persen dan S&P 500 mini yang turun 0,24 persen. 

“Trump selalu menyatakan, ini adalah kebijakan-kebijakan yang akan diimplementasikannya. Banyak di antaranya dinilai sebagai retorika kampanye tapi dia menjalankannya,” kata Woods seperti dikutip Reuters, Senin (30/1).

Menurut Woods, langkah Trump melarang imigran masuk memunculkan kekhawatiran bahwa presiden baru AS itu juga akan menjalankan kebijakan proteksionis lainnya, termasuk perang dagang dengan Cina. (Baca juga: Proteksi Trump, Tantangan sekaligus Peluang bagi Ekspor Indonesia)

Seperti diketahui, pada Jumat (27/1) pekan lalu, Trump menetapkan larangan masuk ke AS selama 120 hari bagi pencari suaka dan larangan masuk selama 90 hari terhadap warga negara Irak, Libia, Somalia, Sudan, Suriah, dan Yaman.

Di hari yang sama, pemerintah AS juga melansir data pertumbuhan ekonomi yang di bawah target. Ekonomi AS tercatat cuma tumbuh 1,9 persen, di bawah ekspektasi para ekonom yang sebesar 2,2 persen. Dua hal tersebut disebut-sebut menambah tekanan terhadap dolar AS.

Di sisi lain, dampak kebijakan Trump terhadap pasar Asia belum sepenuhnya terlihat lantaran beberapa bursa saham di beberapa negara Asia seperti Cina, Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan, Singapura dan Malaysia tutup pada Senin ini terkait libur tahun baru Cina. (Baca juga: Trump Bangun Tembok, Meksiko Ancam Bebani Konsumen Amerika)

Meski begitu, pasar keuangan lokal terpantau cukup kuat. Pada penutupan perdagangan Senin sore ini, nilai tukar rupiah tercatat menguat 0,08 persen ke posisi Rp 13.349 per dolar AS. Sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat 0,19 persen ke level 5.302.  

Analis PT Asjaya Indosurya Securities, William Surya Wijaya mengungkapkan, pergerakan positif IHSG seiring masih stabilnya fundamental ekonomi domestik, termasuk terkendalinya inflasi. "Tentunya dapat mendongkrak kenaikan dari IHSG,” kata dia. Sebelumnya, William pun sempat memproyeksikan IHSG bergerak di kisaran 5.221-5.336 sepanjang perdagangan hari ini.

Reporter: Desy Setyowati
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...