PGN Butuh Rp 333 Triliun untuk Infrastruktur Gas Hingga 2025

Penulis: Anggita Rezki Amelia

Editor: Arnold Sirait

11/4/2017, 19.57 WIB

Direktur Utama PGN Hendi Prio Santoso mengatakan pembangunan infrastruktur akan berfokus di Indonesia wilayah tengah dan timur Indonesia.

pipa gas
Katadata | Arief Kamaludin

PT Perusahaan Gas Negara (Persero) (PGN) akan mengucurkan dana sebesar US$ 25 miliar atau setara Rp 333 triliun untuk membangun infrastruktur gas hingga 2025. Pembangunan infrastruktur ini sejalan dengan target bauran energi gas bumi sebesar 22 persen hingga delapan tahun ke depan.

Direktur Utama PGN Hendi Prio Santoso mengatakan, pembangunan infrastruktur akan berfokus di Indonesia wilayah tengah dan timur. "Hingga 2025 estimasinya sekitar US$ 25 miliar,  berbentuk new capital expenditure investment," kata dia di Jakarta, Selasa (11/4).

(Baca: Bangun Infrastruktur Gas Butuh Rp 1.066 Triliun Sampai 2030)

Hingga 2025, PGN akan membangun lima jenis infrastruktur gas. Pertama, pembangunan jaringan gas pipa sepanjang 15.238 kilometer (km). PGN sudah membangun 9.000 km jaringan gas pipa sehingga panjang jaringan pipa PGN pada 2025 nanti mencapai sekitar 24,238 km. 

Hendi mengatakan, penambahan jaringan pipa ini sejalan dengan perkiraan kebutuhan gas yang terus meningkat pada 10 tahun ke depan. Dengan begitu, dapat membantu pemerintah menjalankan program gas kota dan juga untuk kebutuhan listrik.

(Baca: 2017, Target Serapan Gas Dalam Negeri Naik Jadi 62 Persen)

Berdasarkan data PGN, konsumsi gas mencapai 3.950 bbtud pada tahun lalu. Jumlah itu diperkirakan meningkat menjadi 9.600 bbtud di 2025. "Jumlahnya dua kali lipat dari saat ini," kata Hendi.

Untuk memperluas jaringan pipa, PGN juga membangunvirtual pipeline. Ini merupakan sistem penyaluran gas bumi berwujud LNG, menggunakan kapal LNG, LNG storage atau penyimpanan maupun receiving terminal alias terminal penerimaan.

Setelah kapal sampai terminal penerimaan, gas dialirkan menggunakan pipa distribusi. Dengan virtual pipeline, Hendi yakin fleksibilitas pasokan gas dapat terjaga. Alasannya, pasokan  tidak hanya bersumber dari suatu lapangan migas tertentu, namun juga bisa berasal dari impor.

(Baca: Terancam Defisit, Pertamina Mulai Impor LNG)

Kedua, fasilitas gas alam cair  sebanyak 14 unit. Ketiga, fasilitas regasifikasi sebanyak 74 unit. Keempat, pembangunan stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG) sebanyak 750 unit. Kelima, pembangunan jaringan gas kota sebanyak 2.838 juta sambungan rumah tangga.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan