Arcandra: Bagi Hasil Migas di Laut Dalam Indonesia Melebihi AS

Penulis: Anggita Rezki Amelia

Editor: Arnold Sirait

Jum'at 26/5/2017, 18.53 WIB

Di Amerika Serikat, kontraktor mendapat bagi hasil migas 55%. Sedangkan di Indonesia bisa mendapatkan 59%.

Rig
Katadata

Pemerintah menganggap bagi hasil yang diberikan kepada kontraktor migas yang berinvestasi di laut dalam Indonesia sudah menarik dibanding negara lain. Setidaknya jika dibandingkan Amerika Serikat (AS), bagi hasil yang diperoleh kontraktor di Indonesia lebih besar.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan, sistem bagi hasil yang diterapkan di Amerika Serikat (AS) adalah pajak dan royalti. Untuk laut dalam, pemerintah AS mendapatkan pajak sekitar 30%, sedangkan royaltinya 15%. Jika ditotal pemerintah hanya mendapatkan bagian 45% dan kontraktor 55%.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

(Baca: Pemerintah Kaji Tambah Masa Eksplorasi Laut Dalam Jadi 15 Tahun)

Sedangkan di Indonesia, jika menggunakan sistem kerja sama gross split, kontraktor akan mendapat yang lebih besar dibandingkan AS. Perhitungannya, untuk besaran dasar bagi hasil (base split), kontraktor memang mendapat 43%. Namun, jumlah itu bisa bertambah tergantung lokasi dan karakteristiknya.

Untuk laut dalam, pemerintah akan menambah 16%. Jadi total yang didapat kontraktor sebesar 59%. “Itu baru variabel laut dalam. Belum lagi kalau lokasinya di remote area. Hitung saja, coba cek laut dalam di AS,” ujar dia di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (26/5).

(Baca: Mengukur Manfaat Skema Baru Gross Split bagi Negara)

Di sisi lain, pemerintah sedang mengkaji aturan mengenai pengelolaan minyak dan gas bumi di kawasan laut ultradalam. Dalam kajian sementara, kontraktor berpeluang memperoleh bagi hasil hingga 85% jika wilayah kerja migasnya memiliki risiko yang besar dan menggunakan skema gross split.

Untuk mengetahui lebih detail hitungan bagi hasil tersebut, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) I.G.N. Wiratmaja Puja mengatakan, pemerintah sudah meminta tiga kontraktor mengkaji wilayah kerja migasnya yang berada di laut dalam. Mereka adalah Chevron di Selat Makassar, Eni di proyek Jangkrik dan Shell di kawasan Maluku dan Papua.

(Baca: Kontraktor Migas di Laut Dalam Berpeluang Gaet Bagi Hasil 85%)

Hasil kajian tersebut akan menjadi pertimbangan pemerintah dalam menggodok aturan tentang proyek migas di laut ultradalam. “Sudah kami minta, dalam dua minggu lagi mereka presentasikan," kata Wiratmaja di Jakarta, Kamis (18/5).