Pengembangan industri di luar Jawa dilakukan untuk mengejar target pertumbuhan ekspor tekstil sebesar 11% tahun ini.
tekstil
Katadata | Arief Kamaludin

Pemerintah berupaya mendorong investasi pabrik-pabrik tekstil di kawasan industri di luar Jawa. Hal ini dilakukan untuk mengejar target pertumbuhan ekspor tekstil sebesar 11% tahun ini.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyatakan, distribusi industri tekstil skala menengah dan besar masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. "Tugas kami untuk pemerataan populasi industri di luar Jawa," kata Airlangga dalam keterangan resmi, akhir pekan lalu.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Pengembangan industri di daerah merupakan cara untuk melakukan diversifikasi penghasil tekstil dan penyejahteraan ekonomi masyarakat inklusif. Saat ini, sudah ada beberapa kawasan industri yang telah beroperasi, contohnya adalah Palu, Sulawesi Tengah; Morowali, Sulawesi Tengah; Konawe, Sulawesi Tenggara; Bantaeng, Sulawesi Selatan; Sei Mangkei, Sumatera Utara; dan Dumai, Riau.

(Baca juga:  4 Investor Tiongkok & Korsel Siap Investasi Rp 372 Triliun di Kaltara)

Menurut data Kementerian Perindustrian, pada 2016, nilai ekspor produk tekstil sebesar US$ 10,9 miliar atau Rp 144,3 triliun. Airlangga menyebutkan, pertumbuhan 11% mematok ekspor pada tahun ini sebesar US$ 12,09 miliar atau Rp 160.07 triliun dan US$ 13,5 miliar atau Rp 178,74 triliun pada tahun depan.

Dengan demikian, pada 2019, nilai ekspor bisa mencapai US$ 15 miliar atau Rp 198,60 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 3,11 juta orang. "Kami memperkirakan akan ada penambahan kapasitas produksi sebesar 1,6 juta ton per tahun dengan nilai investasi Rp 81,45 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 424 ribu orang," tutur Airlangga.

Ia menjelaskan, industri tekstil mempunyai potensi yang besar untuk berkembang. Berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional 2015 sampai 2035, tekstil menjadi salah satu industri yang menjadi prioritas supaya mampu memberikan kontribusi signifikan untuk pertumbuhan nasional.

(Baca juga: Neraca Dagang Agustus Surplus US$ 1,72 Miliar, Tertinggi Sejak 2012)

Menurut United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), Indonesia menduduki peringkat ke-9 dunia untuk negara dengan nilai tambah manufaktur. Posisi ini lebih tinggi dari Rusia, Australia, dan negara di Asia Tenggara. Selain itu, tekstil asal Tanah Air sejajar dengan negara industri seperti Brazil dan Inggris.

Sektor tekstil memang memiliki kualitas baik di pasar intenasional. "Khusus untuk industri sepatu dan peralatan olahraga, kita sudah melewati Cina. Kita juga sudah menguasai pasar di Brazil hingga 80%," kata Airlangga.

Oleh karena itu, untuk memperluas pasar ekspor, pemerintah juga berupaya membuat perjanjian kerja sama bilateral dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa. Pasalnya, Indonesia masih dikenakan bea impor untuk tekstil hingga 20%. Berbeda dengan Vietnam yang sudah bebas bea masuk.

(Lihat Ekonografik: Proyek Tiga Provinsi Untuk Tiongkok)

Michael Reily
Artikel Terkait
Pengenaan cukai itu dapat menaikkan harga jual minuman berpemanis.
Gudang Garam mengklaim kerja sama dengan SMK membuat sistem rekruitmen lebih efisien.
Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in.