Tahun ini OJK memperkirakan pertumbuhan kredit hanya 9-11 persen.
OJK
Katadata | Arief Kamaludin

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengaku optimis kondisi perekonomian Indonesia akan semakin baik pada tahun depan. Oleh karenanya, target pertumbuhan kredit pun diproyeksikan akan di angka 12-13 persen, atau mengalami kenaikan dibandingkan perkirakaan tahun ini yang hanya 9-11 persen.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso memperkirakan indikator ekonomi global tahun 2018 akan semakin baik, khususnya di Indonesia. IMF dan Bank Dunia juga telah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik di negara-negara berkembang.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Di sisi lain, tekanan kondisi ekonomi global pun diprediksi akan mereda di akhir tahun 2017 ini. "Perekonomian Tiongkok mulai meningkat. Karenanya, kami harapkan pertumbuhannya lebih baik tahun depan," ujar Wimboh di Kantor OJK, Jakarta, Jumat (10/11).

(Baca: Target Meleset, BNI Revisi Pertumbuhan Kredit Tahun Ini Jadi 13%)

Dengan kondisi perekonomian Tiongkok yang semakin baik, membuat permintaan barang pun akan meningkat, khususnya dari Indonesia. Alhasil, industri dalam negeri akan mulai bergerak dan memberikan dampak pada penyaluran kredit. Selain itu, faktor politik domestik pun akan mempengaruhi kondisi ekonomi di 2018 dengan diadakannya Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) serentak.

Sementara itu, Kepala Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana mengatakan hingga Oktober 2017, pertumbuhan kredit secara tahunan (year on year/yoy) sebesar 7,86 persen. Namun, sampai dengan akhir tahun, OJK masih mengupayakan agar pertumbuhan kredit bisa diangka 10 persen. "Semoga bisa tercapai," ujarnya.

Menurutnya, terdapat beberapa alasan penyaluran kredit masih lambat. Pertama, perbankan nasional mulai melakukan konsolidasi akan kredit-kredit bermasalahnya. Terlihat dari rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) industri yang tadinya dikisaran 3 persen, menjadi hanya sekitar 2,93 persen. Selain itu, banyak debitur-debitur besar yang melakukan pelunasan terhadap kreditnya.

(Baca: Pemerintah Tetapkan Bunga Kredit Rakyat Turun Jadi 7% pada 2018)

Meski begitu, harga komoditas seperti batubara dan sektor perkebunan sudah mulai membaik. Hal ini bisa menjadi faktor yang mempengaruhi perbaikan pertumbuhan ekonomi. Namun, OJK memperkirakan pertumbuhan ini tetap tidak akan setinggi yang diharapkan, khususnya oleh perbankan.

Heru optimistis pertumbuhan penyaluran kredit tahun depan bisa lebih tinggi dibanding tahun ini, yaitu di atas 11 persen. OJK juga akan mendorong perbankan melakukan konsolidasi dan menyehatkan kinerjanya. Dengan kondisi yang sehat, pertumbuhan akan berlangsung dengan cepat.

"Jadi tugas kami membuat stabilitas kondisi perbankan untuk menjadi landasan kokoh bagi mereka bisa tumbuh dengan cepat," ujarnya. Pertumbuhan ini pun harus disertai dengan kualitas yang semakin baik. Heru menargetkan, rasio NPL perbankan 2018 berada di bawah 2 persen.

OJK, kata Heru, berkomitmen untuk mengawasi kinerja perbankan secara lebih ketat. Memonitor agar perbankan bisa melakukan koreksi lebih cepat dengan berkomunikasi langsung kepada pimpinan bank tersebut. Penyehatan perbankan dilakukan guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

(Baca: Bunga Penjaminan LPS Turun 0,25%, Bank Diminta Menyesuaikan)

 

Artikel Terkait
Persyaratan equity crowdfunding diklaim tidak akan seketat proses Initial Public Offering.
"Jangan sampai datang (ke Indonesia) hanya untuk memberikan kredit ke (perusahaan) Jepang saja," kata Kepala Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana
"Tahun ini bursa sudah melakukan pemeriksaan itu (kecurangan) berapa kali, belasan, tapi kasusnya beda-beda," ujar Hamdi