Jepang: Waktu Tempuh Kereta Semicepat Jakarta – Surabaya 5,5 Jam

Penulis: Ameidyo Daud

Editor: Pingit Aria

13/11/2017, 19.25 WIB

Pemerintah akan memutuskan apakah hasil kajian awal ini akan ditindaklanjuti atau tidak.

Gerbong Inka
ANTARA FOTO/Siswowidodo
Pembuatan gerbong kereta ekonomi pesanan PT KAI di pabrik PT Industri Kereta Api (INKA) di Madiun, Jawa Timur, 16 Mei 2017.

Jepang hampir menyelesaikan bagian awal studi kelayakan kereta semicepat Jakarta – Surabaya. Menurut perhitungan Japan International Cooperation Agency (JICA), waktu tempuh Jakarta – Surabaya dengan kereta ini akan mencapai 5,5 jam.

Senior Representative Indonesia Office JICA Tomoyuki Kawabata menyatakan, pra studi kelayakan proyek ini yang akan selesai pada bulan depan. Ia menyerahkan kepada Kementerian Perhubungan untuk menindaklanjutinya.

Kawabata mengatakan, pihaknya akan menunggu hasil pra studi kelayakan yang dikerjakan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) untuk dikombinasikan dengan JICA.

(Baca juga: Kunjungi Jepang, Pemerintah Bahas Tiga Proyek Besar Kereta)

"Setelahnya akan studi kelayakan namun itu akan diputuskan dari pihak Indonesia," katanya di Kedutaan Jepang, Jakarta, Senin (13/10).

Dia juga mengatakan, dari hasil pra studi kelayakan yang dilakukan JICA, kereta ini akan menggunakan jalur yang telah ada. Sedangkan jarak 748 kilometer Jakarta - Surabaya akan ditempuh dalam waktu 5,5 jam dengan kecepatan rata-rata 160 kilometer. "Detail lainnya sedang dalam diskusi," ujarnya.

Sedangkan, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan Jepang hampir menyetujui pendanaan proyek kereta semicepat Jakarta - Surabaya. Saat ini Kemenhub masih melanjutkan pembahasan pendanaan dengan Japan International Cooperation Agency (JICA).

(Baca juga:  Bertemu Jepang, Jokowi Ingin Kereta Jakarta – Surabaya Lebih Kencang)

Budi menjelaskan rekomendasi JICA dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) akan rampung dalam waktu dekat. Menurut perhitungan BPPT, investasi proyek ini dapat mencapai Rp 62 triliun. "Sudah 75%, kalau harga (pinjaman) cocok maka kami bisa maju," kata Budi.

Reporter: Ameidyo Daud

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan