"Jangan sampai ada isu pengangguran 5,5%, lalu terjadi era e-commerce yang masif, mulai pengurangan pekerja, lalu ada (masalah) pengangguran yang berat."
pengangguran, tenaga kerja
KATADATA | Arief Kamaludin

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro memprediksi tingkat pengangguran bakal berada di level 5,5% dari total angkatan kerja tahun ini. Tingkat pengangguran tersebut lebih tinggi dibandingkan target yang dipatoknya yaitu 5,4%. Saat ini, pemerintah pun mengantisipasi risiko tingkat pengangguran membengkak imbas perkembangan teknologi.

Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran berada di level 5,5% dari angkatan kerja yang mencapai 128,06 juta per Agustus 2017. "Pengangguran targetnya 5,4% tetapi kami lihat 5,5%. Ini sebenarnya masih dalam range. Ya sedikit meleset dari target," kata Bambang saat Konferensi Pers tentang perkembangan ekonomi dan pencapaian target pembangunan 2017 di kantornya, Jakarta, Senin (13/11).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Namun, menurut Bambang, penyerapan tenaga kerja masih sesuai target. Meskipun, kenaikan angkatan kerja tercatat lebih tinggi dibandingkan kenaikan penduduk bekerja. Menurut data BPS, angkatan kerja bertambah 2,62 juta orang dalam setahun, sedangkan penduduk yang bekerja bertambah 2,61 juta orang dalam setahun.

"Penyerapan tenaga kerja ini masih sesuai target kami selama lima tahun mencapai 10 juta. Berarti rata-rata dua juta per tahun," kata dia. (Baca juga: Pengangguran Naik 10 Ribu Setahun, BPS Bantah Karena Retail Tutup)

Ke depan, ia menduga bahwa tenaga kerja akan lebih banyak diserap oleh sektor jasa. Hal itu lantaran pertumbuhan industri yang bergerak di sektor jasa jauh lebih tinggi, bahkan dibandingkan industri pengolahan.

Jasa perusahaan, misalnya, tumbuh 9,24%, jasa kesehatan dan kegiatan sosial tumbuh 7,44%, jasa keuangan dan asuransi 6,44%, dan jasa lainnya 9,45%. Sementara industri pengolahan hanya tumbuh 4,84%. 

Ia menekankan, pemerintah terus mengantisipasi risiko pengangguran ke depan, termasuk yang diakibatkan perkembangan ekonomi digital. Salah satu upaya pemerintah yaitu mendorong pendidikan vokasi yang sesuai kebutuhan industri. Harapannya, tidak terjadi masalah pengangguran yang berat ke depan.

“Jangan sampai ada isu pengangguran yang sekarang 5,5%, lalu terjadi era e-commerce yang masif tidak hanya di retail, tapi bank dan sektor lain, lalu mulai terjadi pengurangan pekerja maka akan ada (masalah) pengangguran yang berat," kata dia. (Baca juga: Asosiasi Pengusaha Mengakui Penyerapan Tenaga Kerja Terus Turun)

Secara umum, Bambang mencatat proporsi lapangan kerja meningkat dari 42,4% pada Agustus 2016 menjadi 42,97% pada Agustus 2017. Artinya, ada kenaikan pekerja formal sebanyak 1,79 juta dalam setahun. Dari jumlah tersebut, sebanyak 56,26% bekerja di sektor jasa, lalu 29,69% di sektor pertanian dan 14,06% di industri pengolahan.

Artikel Terkait
"Kami membuat industri startup menghabiskan US$ 50 juta dan hasilnya nihil," kata CEO baru Indosat, Joy Wahyudi.
Ekonomi kreatif bakal menyumbang Rp 1.000 triliun untuk Produk Domestik Bruto 2017.
Bukalapak akan mendapat suntikan dana dari investor asing, meski pemodal lokal masih mendominasi kepemilikan.