"Setelah proyek dibangun di 10 lokasi, ini menjadi proyek terbesar di dunia. Belum pernah ada yang seperti ini," kata Mugiono.
Nusantara Regas
www.nusantararegas.com

Konsorsium yang terdiri dari PT Pertamina (Persero), Engie dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk/PGN melalui anak usahanya yakni PT PGN LNG Indonesia berencana membangun fasilitas gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) di Indonesia Tengah. Proyek itu masih dilelang PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)/PLN, nantinya akan menjadi yang terbesar di dunia.

Direktur Utama PT PGN LNG Indonesia Mugiono optimistis konsorsium itu bisa memenangkan lelang tersebut. Ini karena peserta lelang lainnya sudah gugur dan hanya tersisa konsorsium dari PT PGN LNG Indonesia, Pertamina dan Engie.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Namun, sampai saat ini konsorsium tersebut masih menunggu keputusan resmi dari PLN untuk menggarap proyek tersebut. “Kalau PLN sudah menunjuk konsorsium PGN, Pertamina dan Engie sebagai pemenangnya, proyek akan dimulai," kata Mugiono di Kementerian BUMN, Rabu (15/11).

Nantinya konsorsium tersebut akan membangun satu unit fasilitas regasifikasi dan penampungan (floating storage regasification unit/FSRU). Kemudian, satu unit kapal LNG besar yang mengangkut gas dan menyimpannya di FSRU. Ada juga kapal kecil yang membantu mengirimkan LNG ke terminal penerima.

Terminal penerima (receiving LNG) ini akan dibangun di 10 lokasi yang tersebar di Sulawesi, Kalimantan hingga Nusa Tenggara Barat. "Setelah proyek dibangun di 10 lokasi, ini menjadi proyek terbesar di dunia. Belum pernah ada yang seperti ini," kata Mugiono.

Total investasi untuk membangun proyek tersebut sekitar US$ 1 miliar atau sekitar Rp 13,51 triliun. Sumber pendanaannya akan diperoleh melalui pinjaman dengan skema project financing melalui lembaga multinasional. 

 Menurut Mugiono, infrastruktur LNG ini sangat tepat dibangun di Indonesia bagian tengah. Alasannya, secara geografis berbeda dengan wilayah barat yang bisa terhubung dengan pipa untuk menyalurkan gas bumi.  

Jadi nantinya gas yang tersimpan di FSRU akan dipasok ke dua kapal LNG mini. Kapal LNG mini akan berkeliling mengantarkan gas ke 10 lokasi terminal penerima LNG tersebut.

Adapun 10 lokasi tersebut nantinya membutuhkan gas sebanyak 150 juta kaki kubik per hari (mmscfd). Pasokan gasnya berasal dari domestik, termasuk Pertamina yang memiliki portofolio LNG cukup besar sehingga bisa mengamankan pasokan untuk Indonesia Tengah.

(Baca: Menteri ESDM Minta PGN Tak Hanya Fokus Bangun Pipa Gas)

Apalagi, Pertamina merupakan pemimpin konsorsium yang akan menggarap proyek tersebut. "Relatif sama share-nya. Kami bertiga sekitar 30% lebih, bedanya tipis-tipis, tapi Pertamina paling besar," kata Mugiono.

Artikel Terkait
Pertamina berencana meluncurkan produk tersebut Maret 2018
Pertamina membentuk satuan tugas (satgas) untuk pengamanan pasokan bahan bakar yang bertugas sejak 18 Desember 2017 hingga 8 Januari 2018.
Pembangunan kabel bawah laut ini diharapkan bisa menekan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) listrik Bangka Belitung.