Kemenperin Nilai Cukai Minuman Berpemanis Bisa Hambat Industri

Penulis: Dimas Jarot Bayu

Editor: Arnold Sirait

16/11/2017, 20.57 WIB

Pengenaan cukai itu dapat menaikkan harga jual minuman berpemanis.

Minuman
ANTARA FOTO/Rony Muharrman
ilustrasi

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai rencana pengenaan cukai pada minuman berpemanis bisa menurunkan pertumbuhan industri makanan dan minuman. Ini karena pengenaan cukai itu dapat menaikkan harga jual minuman berpemanis.

Naiknya harga jual tersebut diprediksi bisa menurunkan penjualan. Alhasil produsen akan mengurangi produksi. "Pertumbuhan industri juga turun. Itu kemungkinan besarnya," kata Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kemenperin, Abdul Rohim di Jakarta, Kamis (16/11).

Atas dasar itu, Rohim menilai rencana yang dilontarkan Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan mendapat penolakan dari para pelaku industri minuman berpemanis. Sebab,kebijakan itu akan memberatkan usaha mereka.

Di sisi lain, menurut Rohim, sampai saat ini Direktorat Jenderal Bea dan Cukai belum pernah berdiskusi dengan Kementerian Perindustrian mengenai kebijakan tersebut. Jadi, harapannya sebelum aturan diterapkan, pihak Bea dan Cukai bisa berdiskusi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Nantinya semua pihak bisa menyampaikan pandangan terhadap wacana kebijakan penerapan cukai tersebut. "Pertimbangan dari industri dan Bea Cukai juga harus kami lihat," ucap Rohim.

Direktorat Bea dan Cukai Kementerian Keuangan memang tengah mengkaji pengenaan cukai untuk plastik (kresek) dan minuman berpemanis. Kebijakan ini rencananya diterapkan mulai tahun depan.

Pengenaan cukai ini akan mengacu pada kadar gula dalam minuman. Salah satu pertimbangannya adalah kesehatan. Minuman berpemanis ini diduga menjadi penyebab tingginya obesitas. 

(Baca: Pemerintah Didorong Kenakan Cukai Minuman Ringan dan Kendaraan)

Adapun negara yang sukses mengurangi konsumsi minuman berpemanis melalui cukai adalah Meksiko. Sedangkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi minuman berpemanis di Indonesia dalam 20 tahun terakhir tumbuh dari 50 juta liter menjadi 780 juta liter.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan