Menkominfo Sebut Ruangguru Berpotensi Raih Status Unicorn

Penulis: Michael Reily

Editor: Yuliawati

22/11/2017, 18.25 WIB

Rudiantara mengungkapkan sektor pendidikan nasional butuh investasi dari dalam negeri karena peraturan melarang sektor ini menerima modal asing.

Menkominfo Rudiantara
Katadata | Arief Kamaludin
Menteri Kominfo Rudiantara.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyatakan perusahaan teknologi penyedia layanan pendidikan Ruangguru bakal menyandang status unicorn atau startup yang memiliki valuasi US$ 1 miliar.  Saat ini beberapa startup berstatus unicorn di antaranya Tokopedia, Traveloka, dan Go-Jek. 

Rudiantara mengatakan, status unicorn dapat dicapai jika Ruangguru mampu mengakses Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) untuk sektor pendidikan yang persentasenya 20%. Dalam Rancangan APBN 2018, alokasi pendidikan mencapai Rp 440,9 triliun. Secara nilai, anggarannya meningkat sebesar 3,3% dibanding tahun lalu.

Rudiantara menyatakan telah bertemu dengan Chief Executive Officer Ruangguru Adamas Belva dan mengkalkulasi anggaran. "Kalau Ruangguru bisa mendapatkan 1-2% saja, berapa besar yang diterima," katanya di Jakarta, Rabu (22/11).

(Baca: Bukalapak Siap Susul Status Unicorn Tokopedia, Traveloka, dan Go-Jek)

Ia mengungkapkan sektor pendidikan nasional butuh investasi dari dalam negeri karena peraturan melarang penanaman modal asing. Contohnya, perusahaan teknologi asal Jepang bernama Quipper yang masuk ke Indonesia.

Rudiantara menyebutkan Ruangguru tidak akan kalah jika investasi dalam negeri terus ditingkatkan. Tren belajar juga sudah beralih menjadi digital. "Ongkosnya paling mahal 20% dari ongkos pembelajaran konvensional," ujarnya.

Menurutnya, sistem pembelajaran secara digital tidak akan kalah dibanding pendidikan konvensional. Sehingga, Rudiantara telah meminta Ruangguru untuk melakukan analisis lulusan yang berhasil diterima di perguruan tinggi.

(Baca: Sehari Pesta Diskon, Alibaba Raup Transaksi Rp 342 Triliun)

Pasalnya, penghitungan pola pendidikan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) masih dilakukan secara semimanual. Rudiantara yakin digitalisasi bakal memudahkan penghitungan sehingga pengembangan sistem pendidikan bakal direncanakan lebih baik.

Profesor Clayton Christiansen dari Harvard Business School mengungkapkan bahwa setengah dari perguruan tinggi di Amerika Serikat (AS) akan bangkrut dalam waktu 10 hingga 15 tahun lagi. Tercatat, ada lebih dari 4 ribu kampus dan universitas di AS.

Dalam buku terbarunya, "The Innovative University", Christiansen dan rekan penulisnya Henry Eyring menganalisis masa depan universitas tradisional dan menyimpulkan bahwa pendidikan digital bakal lebih efektif dalam ongkos. Sehingga institusi pendidikan konvensional bakal tergerus dan menjadi bangkrut.

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan