Sri Mulyani Waspadai Lima Tantangan Ekonomi Dunia

Penulis: Anggita Rezki Amelia

Editor: Arnold Sirait

29/11/2017, 18.35 WIB

“Banyak negara berkembang harus siap-siap hadapi kecenderungan suku bunga global yang relatif tinggi,” kata Sri Mulyani.

infrastruktur
Arief Kamaludin|KATADATA

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah memetakan beberapa tantangan ekonomi global yang perlu diwaspadai Indonesia. Tantangan tersebut perlu diwaspadai supaya tidak mengganggu perekonomian dalam negeri.

Sri Mulyani memprediksi pertumbuhan ekonomi secara global di tahun 2018 bisa mencapai 3,6%. Prediksi itu lebih tinggi dari proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini yang sudah direvisi menjadi 3,5%, dari sebelumnya 3,7%.

Kuatnya pertumbuhan ekonomi global tahun depan didorong oleh perekonomian negara maju, terutama Amerika Serikat.  Hal itu berdampak pada volume perdagangan internasional yang mulai membaik dibandingkan sebelumnya.

Perbaikan ekonomi Amerika Serikat ini tentu menjadi peluang bagi Indonesia sebagai negara eksportir. ”Kita akan memiliki  kesempatan untuk mendapatkan pertumbuhan ekonomi yang didorong dari mesin ekspor ini,” kata dia di Jakarta, Rabu (29/11).

Meski begitu, Sri Mulyani juga tetap mengantisipasi adanya tantangan yang bisa menghambat pertumbuhan ekonomi secara global. Pertama, adalah kondisi politik di beberapa negara. Tahun 2017, banyak sekali yang menggunakan isu nasionalisme untuk memenangkan pemilihan umum (pemilu). Hal ini tentu akan berpengaruh pada kebijakan perdagangan yang cenderung protektif.

Faktor kedua yang bisa mempengaruhi ekonomi dunia adalah kebijakan moneter negara maju, khususnya Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok dan bahkan Eropa. Apalagi Bank Sentral Amerika Serikat mulai melakukan normalisasi.

Dengan kebijakan normalisasi itu artinya, jumlah uang beredar akan menurun dan suku bunga akan meningkat. “Banyak negara berkembang harus siap-siap hadapi kecenderungan suku bunga global yang relatif tinggi,” kata Sri Mulyani.

Ketiga, kondisi geopolitik. Yang perlu diperhatikan adalah memanasnya kondisi Korea Utara. Selain itu juga kondisi internal Arab Saudi, serta hubungan dengan Iran dan negara lainnya. Kondisi ini tentunya akan mempengaruhi harga minyak atau emas yang sering dipakai untuk berjaga-jaga ketika situasi mengalami ketidakpastian.

(Baca: Kenaikan Harga Minyak Dapat Perkecil Defisit Anggaran Negara)

Keempat adalah perubahan iklim yang bisa menimbulkan bencana. Kelima, tantangan perubahan teknologi yang bisa berdampak pada tenaga kerja dan produktivitas. “Ini kesempatan yang apabila kita tidak sikapi akan bisa jadi tantangan terhadap pemulihan ekonomi dunia,” ujar dia.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan