"Kami kasih previledge dengan kontrak-kontrak blok migas," kata Pelaksana tugas Direktur Jenderal Migas, Ego Syahrial.
FUP Jangkrik
Suasana Kapal Floating Production Unit (FPU) Jangkrik di Saipem Karimun Yard, Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, Selasa (21/3). ANTARA FOTO/M Agung Rajasa

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menugaskan PT Pertamina (Persero) untuk mengelola delapan blok minyak dan gas bumi (migas) yang akan habis kontrak tahun ini. Delapan blok ini berpotensi menambah aset Pertamina.

Pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Ego Syahrial pernah mengatakan penugasan itu merupakan bentuk perhatian pemerintah kepada PT Pertamina (Persero), terutama dari segi keuangan. Pertamina memperoleh delapan blok ini secara gratis. Mereka hanya membayar bonus tanda tangan dan menyerahkan komitmen investasi tiga tahun pertama.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Penugasan ini juga untuk mengkompensasi kebijakan harga BBM yang selama ini tidak naik. "Kami kasih previledge dengan kontrak-kontrak blok migas," kata dia di rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR Jakarta, 18 Januari lalu.

Setelah kontrak blok-blok itu berakhir, maka pada penandatanganan kontrak baru akan menggunakan skema bagi hasil gross split, kecuali Blok Tengah karena akan digabung dengan kontrak Blok Mahakam. Delapan blok ini pun memiliki karakteristik berbeda.

Berikut ini profil delapan blok migas yang akan dikuasai Pertamina tahun ini:

1. Blok Sanga-Sanga

Blok yang terletak di Kalimantan Timur ini memiliki luas 4.043 kilometer persegi (km2). Kontrak blok ini pertama kali ditandatangani pada 8 Agustus 1968 dengan masa kontrak 30 tahun. Operator blok ini adalah Virginia Indonesia Co. LLC atau yang lebih dikenal VICO Indonesia.

Tahun 1990 kontrak pertama Sanga-Sanga berakhir. VICO mendapat perpanjangan kontrak selama 20 tahun dan akan berakhir pada 7 Agustus 2018. Artinya, pada Agustus nanti blok ini genap beroperasi setengah abad.

Saat ini, VICO Indonesia memegang hak pengelolaan 7,50 %, lalu sisanya dimiliki beberapa kontraktor seperti Virginia International Co. LLC. sebesar 15.63 % dan ENI 26,25 % -setelah mengakuisisi Lasmo Sanga-Sanga Ltd-. Lalu ada Universe Gas and Oil Comp. Ltd. 4.38 %, Opic Oil Houston Ltd 20 %, dan Saka Energi 26,25 %. Saka baru memiliki hak kelola setelah mengakuisisi BP pada 2016 lalu.

Sejak 2010, produksi blok ini terus menurun. Pada 1 Desember 2010, produksi gas bisa mencapai 459 mmscfd. Namun, tahun 2017, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bahkan tidak memasukkan Sanga-sanga sebagai 10 besar produksi siap jual (lifting) gas. Padahal lifting terendah dari 10 produsen terbesar itu hanya 201 MMSCFD.

Meski begitu, tahun lalu lifting minyak Sanga-Sanga berhasil menyentuh 14 ribu bph. Ini lebih besar dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2017 sebesar 13,4 ribu bph. Berdasarkan data Kementerian ESDM tahun 2015, cadangan minyak yang ada di blok itu 13.232 MTSB. Sedangkan cadangan gas 448,96 BSCF.

2. Blok Attaka

Blok ini terletak di lepas pantai (offshore) di Selat Makassar, Kalimantan Timur dengan luas 145 km2. Operator Blok Attaka adalah Inpex Corporation dan Chevron Indonesia Company dengan hak kelola masing-masing 50 %.

Data Kementerian Energi menunjukkan Blok Attaka ditemukan pada 1970. Pada 1991, kontrak blok ini diperpanjang 20 tahun hingga 31 Desember 2017 lalu. Setelah berakhir Inpex dan Chevron mengembalikan blok tersebut. Namun, Kementerian Energi masih menugaskan Chevron dan Pertamina mengelola blok ini sampai 24 Oktober 2018. Ini karena Blok Attaka akan digabung dengan East Kalimantan.

Dalam 10 bulan itu, Pertamina mengeluarkan investasi sekitar US$ 7 juta atau setara Rp 93 miliar. Biaya tersebut dialokasikan untuk kegiatan operasi seperti lifting dan pemeliharaan di blok tersebut. Adapun produksi Blok Attaka pada 2015 mencapai 4,9 ribu barel setara minyak per hari.

3. Blok East Kalimantan

Blok ini pertama kali dioperasikan PT Unocal Indonesia Company - sekarang bernama PT Chevron Indonesia Company- pada Oktober 1968. Saat ini, operator Blok East Kalimantan masih Chevron dengan hak kelola 92,50 %. Perusahaan asal Amerika Serikat ini bermitra dengan Inpex sebesar 7,50 %.

Kontrak blok ini kadaluarsa pada 1998. Namun, pemerintah memperpanjang selama 20 tahun sampai 24 Oktober 2018. Blok ini memiliki luas 2.796 km2.

Cadangan minyak blok ini ditemukan di beberapa lapangan seperti Sepinggan, Melahin, Kerindingan, Yakin, Serang, Pantai, Seguni, dan Santan. Sepinggan dan Yakin adalah lapangan andalan blok ini.

Gas dari Melahin, Kerindingan, Serang, dan Santan juga dikirim ke Kilang Bontang atau ke ekstraksi pencairan (LEX). Sementara itu minyak dan gas dari Sepinggan, Yakin, dan Senturian didistribusikan ke kilang Pertamina di Balikpapan dan juga untuk ekspor.

Puncak produksi lapangan Sepinggan terjadi tahun 1991 dengan volume 26.600 bph. Sedangkan puncak produksi Lapangan Yakin sebesar 13.200 bph pada tahun 1986. Namun produksi East Kalimantan saat ini mulai menurun. Tahun 2017, lifting minyak blok tersebut mencapai 17,8 ribu bph. 

Data dari Kementerian ESDM tahun 2015, cadangan minyak di blok ini mencapai 63.580 MTSB. Sedangkan gas 2.317,87BSCF.

Anggita Rezki Amelia
Artikel Terkait
Ditjen Pajak bakal mengupayakan akses ke data dan sistem informasi 30 BUMN secara bertahap.
Rini tidak mau setelah restrukturisasi terjadi kelangkaan BBM dan elpiji. Pertamina juga harus bisa bersaing menghadapi pemain baru di hilir.
UU mengenai DBH Migas kedudukan hukumnya lebih tinggi dibandingkan penurunan harga gas yang hanya lewat Perpres.