BI: Cadangan Devisa Tergerus Buat Intervensi Kurs Rupiah

Penulis: Rizky Alika

Editor: Martha Ruth Thertina

Selasa 6/3/2018, 20.10 WIB

"Jumlah cadangan devisa akan turun tapi ke depan berpotensi kembali naik karena ada valas yang diterima BI,” kata Asisten Gubernur BI Dody Budi Waluyo.

Dolar Amerika Serikat
ARIEF KAMALUDIN | KATADATA

Gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi mulai awal Februari 2018 membuat Bank Indonesia (BI) harus melakukan intervensi untuk menstabilkan. Alhasil, cadangan devisa tergerus. Meski begitu, BI melihat peluang cadangan devisa bakal kembali meningkat ke depan.

Berdasarkan kurs tengah BI, nilai tukar rupiah tercatat melemah 2,27% secara point to point pada Februari 2018 yaitu dari Rp 13.402 per dolar AS pada awal Februari menjadi Rp 13.707 pada akhir Februari. Bahkan, rupiah sempat menembus level 13.800 per dolar AS di pasar spot.

“Karena digunakan intervensi, jumlah cadangan devisa akan turun tapi ke depan berpotensi kembali naik karena ada valas yang diterima BI,” kata Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan ekonomi Moneter BI, Dody Budi Waluyo kepada Katadata.co.id, Selasa (6/3). (Baca juga: Jokowi Minta Anak Buahnya Waspadai Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah)

Sebelumnya, cadangan devisa tercatat mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah selama dua bulan berturut-turut, yaitu Desember 2017 dan Januari 2018. Adapun pada akhir Januari 2018, cadangan devisa berada di angka US$ 131,98 miliar. (Baca juga: Jadi Pionir Penerbit Green Sukuk di Asia, Indonesia Raup US$ 3 Miliar)

Dody menjelaskan, pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS lebih disebabkan oleh perkembangan di AS. Sebab, ekonomi domestik dalam kondisi baik, pertumbuhan ekonomi 2018 diprediksi lebih tinggi dari tahun lalu dan inflasi terjaga. “Tidak ada alasan rupiah melemah jika melihat faktor domestik,” kata dia.

Di sisi lain, ekonomi di Negeri Paman Sam terpantau membaik, di antaranya tercermin dari keyakinan konsumen di AS yang naik ke level tertinggi sejak tahun 2000. Gubernur bank sentral AS Jerome Hayden Powell juga mengindikasikan perbaikan ekonomi dan kenaikan inflasi.

Dengan kondisi tersebut, kebijakan bank sentral AS mengarah pada kenaikan bunga dana setidaknya tiga kali tahun ini. Kondisi inilah yang membuat sentimen terhadap dolar AS menguat sehingga rupiah bersama mata uang di regional lainnya melemah.

Adapun tekanan kurs masih berlanjut ke Maret 2018 atau menjelang rapat bulanan bank sentral AS untuk menentukan kebijakan bunga dananya. Dody pun meyakinkan, BI akan terus menjaga stabilitas kurs rupiah agar bergerak sesuai nilai fundamentalnya. (Baca juga: BI Lihat Risiko Volatilitas Kurs Rupiah Menjelang Maret atau Juni)

“BI akan terus menjaga kestabilan rupiah sesuai fundamentalnya antara lain melalui intervensi di pasar valuta asing dan pasar obligasi atau dual intervention,” kata dia. Tujuan intervensi yaitu untuk menstabilkan nilai tukar sekaligus pasar Surat Utang Negara (SUN).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha