Tambah Kapasitas Pabrik, Indofood Siapkan Belanja Modal Rp 9,1 Triliun

Penulis: Hari Widowati

31/5/2018, 18.37 WIB

Perseroan akan menambah kapasitas produksi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Bogasari, divisi agribisnis, dan distribusi.

Gedung Indofood Tower.
KATADATA / Agung Samosir
Gedung Indofood Tower.

PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) menyiapkan belanja modal (capital expenditure) Rp 9,1 triliun untuk mendukung bisnisnya tahun ini. Perseroan akan menambah kapasitas pada empat lini usahanya, yakni PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Bogasari, agribisnis, dan distribusi.

Direktur Utama Indofood Anthoni Salim mengatakan, perseroan akan menambah 100% kapasitas pabrik kemasan pada anak usahanya PT Cipta Kemas Abadi (CKA), pabrik bumbu di Palembang, refinery crude palm oil (CPO) untuk PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), dan pabrik produk dairy dengan kapasitas 1.000-1.500 ton. Perseroan akan menggunakan dana kas internal dan pinjaman bank untuk membiayai belanja modal tersebut.

Direktur Indofood Taufik Wiraatmadja mengatakan, sepanjang tahun lalu perseroan menambah 4 lini produksi untuk pabrik mi di Cirebon. Salim Ivomas juga sudah menyelesaikan pembangunan 2 pabrik di Sumatra Selatan dan Kalimantan.

(Baca: Tambah Mesin, Indofood Siapkan Investasi Rp 530 Miliar)

Penambahan kapasitas merupakan bagian dari strategi Indofood untuk mencapai pertumbuhan penjualan 2%-5% pada 2018 menjadi sekitar Rp 71,59 triliun-Rp 73,5 triliun. Ini merupakan target konservatif dibandingkan realisasi penjualan tahun lalu yang tumbuh sebesar 5,3%. Perseroan menilai pertumbuhan bisnis barang-barang konsumer tahun ini masih cukup menantang tetapi perseroan akan menyiasatinya dengan efisiensi dan inovasi produk. Soal daya beli masyarakat yang belum pulih, Indofood tidak terlalu khawatir karena banyak produknya yang terjangkau oleh masyarakat. Oleh karena itu, perseroan tidak berencana menaikkan harga jual produk-produknya tahun ini.

Pelemahan Rupiah

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang sempat mencapai 4,35% ke level Rp 14.000 juga menjadi salah satu perhatian Indofood. Perseroan saat ini menerapkan natural hedging karena perseroan memiliki pendapatan dalam dolar AS dari ekspor produk-produk konsumer maupun CPO ke berbagai negara. Oleh karena itu, perseroan belum perlu menerapkan lindung nilai (hedging) sesuai ketentuan Bank Indonesia (BI).

Anthoni mengatakan, biaya impor bahan baku masih bisa ditutup dengan pendapatan yang diterima perusahaan dari ekspor. Saat ini kontribusi ekspor mencapai 8% dari total penjualan perseroan. Produk Indofood yang diekspor terdiri atas produk jadi maupun produk setengah jadi. Contohnya, ekspor bumbu saus Indomie ke Arab Saudi. "Kami tetap mendorong pasar ekspor baru. Kami akan kerja sama dengan pihak-pihak yang ingin mendirikan pabrik di Afrika dan wilayah lainnya," kata Anthoni. Tahun ini, perseroan menargetkan kontribusi ekspor bisa meningkat menjadi 10%-12% dari total penjualan perseroan.

(Baca: Ekspansi Indofood Bersaing dengan Penguasa Bisnis Gula Dunia)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan