ICP Juli 2018 Lanjutkan Tren Kenaikan Menembus Level US$ 70,68

Penulis: Anggita Rezki Amelia

Editor: Arnold Sirait

3/8/2018, 18.30 WIB

Harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) periode Juli 2018 mencapai US$ 70,68 per barel.

Rig
Katadata

Harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) periode Juli 2018 mencapai US$ 70,68 per barel. Angka ini meningkat dari periode Juni yang berada di level US$ 70,36 per barel.

Selain itu, harga minyak Indonesia jenis Sumatran Light Crude (LSC) selama Juli juga ikut naik menjadi us$ 72,05 per barel. Padahal bulan sebelumnya hanya US$ 70,73 per barel.

Tim harga minyak menjelaskan kenaikan harga itu seiring dengan peningkatan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar global. "Perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional pada bulan Juli 2018 dibandingkan Juni 2018, sebagian besar mengalami peningkatan," dikutip dari situs migas Kementerian ESDM, Jumat (3/8).

Di pasar internasional, harga minyak jenis Date Brent naik menjadi US$ 74,35 per barel pada Juli 2018,dari sebelumnya US$ 74,33 per barel. Kemudian West Texas Intermediate (Nymex) naik menjadi US$ 70,58 per barel dari US$ 67,32 per barel.

Minyak Basket OPEC naik dari US$ 73,01 per barel menjadi US$ 73,27 per barel. Sementara untuk jenis Brent (ICE) turun dari US$ 75,94 per barel pada Juni 2018, menjadi US$ 74,95 per barel pada Juli 2018.

Peningkatan harga minyak mentah utama di pasar internasional disebabkan oleh beberapa faktor.  Salah satunya karena permintaan minyak mentah secara global tahun 2018.

Pada publikasi Juli 2018, IEA memprediksi pertumbuhan permintaan minyak mentah global meningkat 1,4 juta barel per hari (bph) menjadi 99,1 juta bph. Publikasi OPEC juga menyebutkan akan ada peningkatan permintaan minyak mentah.

Hal itu disebabkan ada peningkatan permintaan minyak negara-negara  Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) dan Non OECD. Penyebab lainnya yakni peningkatan aktivitas industri petrokimia.

Di sisi lain, suplai minyak mentah sepanjang tahun 2018 diprediksi turun. OPEC memperkirakan suplai minyak mentah dari negara-negara OPEC di tahun 2018 turun 301 ribu bph menjadi 32,33 juta bph dari tahun 2017. Penurunan ini berasal dari beberapa negara antara lain Iran, Libya, Venezuela dan Angola.

Publikasi IEA menyebutkan penurunan suplai karena patuhnya anggota OPEC atas komitmen pembatasan produksi yang mencapai 120% di bulan Juni 2018 sebesar 1,41 juta bph. Adapun kesepakatannya adalah membatasi produksi hanya 1,18 juta bph.

Stok minyak mentah dan produk Amerika Serikat (AS) pada bulan Juli 2018 juga turun dari bulan Juni. Mengacu laporan IEA, minyak mentah AS turun sebesar 6,8 juta barel menjadi 241,2 juta barel. Sementara bensin AS turun sebesar 2,8 juta barel menjadi 117,4 juta barel.

Prediksi OPEC mengenai peningkatan pertumbuhan perekonomian global pun ikut memacu meningkatnya ICP. Pertumbuhan ekonomi terus meningkat sebesar 3,8%. Ini didukung oleh peningkatan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS, Tiongkok dan India.

Selain itu, kenaikan harga ICP bulan Juli 2018 juga dipengaruhi kondisi ketegangan geopolitik dan krisis ekonomi. Ketegangan itu dipicu seteru antara Presiden AS dan Presiden Iran. Pasokan menjadi tidak stabil karena Donald Trump mengimbau beberapa negara berhenti mengimpor minyak mentah dari Iran.

International Monetary Fund (IMF) juga melaporkan kalau  krisis ekonomi Venezuela menyebabkan  produksi minyak mentah Venezuela turun ke titik paling rendah selama 30 tahun terakhir. Produksi hanya 1,5 juta bph.

Faktor geopolitik lainnya adalah terganggunya transportasi dan distribusi minyak mentah Libya dengan dihentikannya pengapalan minyak mentah pada pertengahan Juli 2018. Penghentian ini disebabkan adanya penyerangan dan penculikan beberapa pekerja oleh kelompok militan Libya.

Arab Saudi juga sempat menghentikan pengapalan minyak mentah dari Pelabuhan Bab Al-Mandeb. Ini dilakukan setelah terjadi penyerangan terhadap sejumlah kapal tanker milik Arab Saudi oleh kelompok militan Yaman.

Kesepakatan AS dan Eropa untuk menghindari perang perdagangan internasional juga ikut berpengaruh. Amerika Serikat dikabarkan menunda penerapan tarif pajak oleh AS untuk kendaraan dan komponen mesin dari Eropa.

(Baca: Efek Ancaman Trump ke Iran Terhadap Harga Minyak Tak Bertahan Lama)

Adapun untuk kawasan Asia Pasifik, peningkatan harga minyak mentah dipengaruhi oleh peningkatan pembangunan infrastruktur di Tiongkok . Itu menyebabkan peningkatan permintaan minyak mentah Tiongkok.

Reporter: Anggita Rezki Amelia

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan