Kumpulkan Menteri, Jokowi Siap Rilis Kebijakan Lawan Pelemahan Rupiah

Penulis: Ameidyo Daud

Editor: Safrezi Fitra

Selasa 4/9/2018, 13.48 WIB

Dalam dua hari berturut-turut presiden mengumpulkan para menteri dan pimpinan lembaga ekonomi membahas pelemahan rupiah

Jokowi-JK
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Presiden Joko Widodo mengumpulkan para anggota Kabinet Kerja terkait pelemahan rupiah yang terjadi saat ini. Dia ingin mematangkan langkah antisipasi pelemahan rupiah dan segera mengeluarkan kebijakan terkait hal ini dalam satu - dua hari ke depan.

Hadir Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, hingga Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Selain itu ada pula Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo serta Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso.

Pertemuan yang dimulai 09.00 WIB ini berlangsung selama kurang lebih dua jam. Usai acara, Darmin mengatakan kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih mengalami satu masalah yakni defisit transaksi berjalan. Oleh sebab itu dalam satu atau dua hari ini pemerintah akan mengeluarkan kebijakan lagi.

"Presiden menginginkan kebijakan dan langkah yang betul-betul kongkrit," kata Darmin. (Baca: Menanti Reaksi Obat Penguat Rupiah Racikan Pemerintah)

Dalam dua hari berturut-turut, Jokowi memanggil para menteri dan pimpinan lembaga ekonomi membahas nilai tukar rupiah yang terus anjlok. Rapat hari ini merupakan penajaman dari rapat kemarin. Darmin mengatakan pembahasan dalam rapat ini fokus pada persiapan kebijakan yang akan segera diumumkan. Kebijakan tersebut akan meliputi permasalahan impor, peningkatan ekspor, hingga penggunaan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN), Sumber Daya Alam, hingga pariwisata. 

Pemerintah melihat ada kebijakan yang perlu diambil lantaran pelemahan rupiah saat ini merupakan hal yang kurang baik. Walaupun secara umum, kondisi Indonesia tidak separah India, Turki, Afrika Selatan, hingga Rusia. Titik lemah Indonesia adalah defisit transaksi berjalan dan neraca perdagangan yang negatif, walau tidak separah negara-negara tersebut.

(Baca: Jokowi Siapkan Langkah Jangka Pendek Hadapi Tekanan Rupiah)

Sedangkan dalam rapat kemarin, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan menindak tegas spekulan yang memanfaatkan pelemahan rupiah untuk mencari keuntungan. Namun, Sri tidak menyebutkan sanksi tegas apa yang akan diberikan kepada spekulan tersebut.

KSSK akan mencari tahu siapa saja pelaku industri yang memanfaatkan dolar AS untuk hal yang terlegetimasi maupun yang hanya spekulasi. Keperluan  terlegitimasi menurut mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini ketika dolar digunakan untuk impor barang produktif hingga membayar utang. “Kalau tidak kan mereka melakukan hal yang spekulatif,” katanya.

(Baca: Sri Mulyani Siap Rilis Aturan Kenaikan PPh Impor 900 Barang Konsumsi)

 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha