Sri Mulyani: APBN Tetap Sehat Meskipun Rupiah Semakin Loyo

Penulis: Rizky Alika

Editor: Dini Hariyanti

Senin 10/9/2018, 18.34 WIB

APBN 2018 mengasumsikan rupiah di level Rp 13.400 per dolar Amerika Serikat (AS), kini sudah di kisaran 14.800.

Rupiah
Arief Kamaludin|KATADATA

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dinyatakan sehat meskipun nilai tukar rupiah semakin jauh dari proyeksi yang dibuat pemerintah. APBN 2018 mengasumsikan rupiah di level Rp 13.400 per dolar Amerika Serikat (AS), kini sudah di kisaran 14.800.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, depresiasi rupiah memang mengerek pengeluaran pemerintah, seperti untuk subsidi energi, belanja dalam valuta asing, dan pembayaran utang luar negeri. Tapi melemahnya nilai tukar juga menambah pendapatan negara.

"Kami mengelola ekonomi Indonesia menggunakan instrumen APBN. Kalau APBN sehat, kami bisa menjaga lebih baik lagi," tutur Sri dalam rapat kerja dengan Dewan Perwakilan Rakyat, di Jakarta, Senin (10/9). 

(Baca juga: Penerimaan Negara Per Agustus Naik 18,4%, Defisit Anggaran Membaik)

Sri mengatakan, setiap depresiasi Rp 100 menaikkan pendapatan hingga Rp 4,7 triliun serta belanja negara mencapai Rp 3,1 triliun. Dengan demikian, depresiasi rupiah dapat menghasilkan surplus APBN setidaknya Rp 1,6 triliun.

Adapun, realisasi penerimaan negara per Agustus tahun ini tercatat Rp 1.152,7 triliun. Meskipun angka ini menunjukkan kenaikan 18,4% (year on year), tetapi sampai dengan bulan lalu APBN masih defisit Rp 150 triliun. Nilai defisit ini lebih turun Rp 1,3 triliun dari Juli.

(Baca juga: Sri Mulyani: Argumen Pemerintah Soal Rupiah Sesuai Fakta)

Mengacu kepada kurs tengah Bank Indonesia, rupiah diperdagangkan di level Rp 14.835 per dolar AS pada Senin (10/9). Sementara di pasar spot, Garuda berada di posisi Rp 14.884 per dolar AS bahkan sempat menyentuh 14.935.

Kurs mata uang Garuda yang semakin menjauhi asumsi APBN terpengaruh arus keluar investasi asing di pasar keuangan. Capital outflow ini merupakan reaksi investor terhadap kenaikan suku bunga acuan bank sentral AS dan kekhawatiran perang dagang.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha