Gapki : Pergerakan Harga Sawit Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi

Penulis: Michael Reily

Editor: Ekarina

Jum'at 28/9/2018, 12.16 WIB

Pada 2011-2017, tren kenaikan atau penurunan harga sawit selalu sejalan dengan pertumbuhan ekonomi ekonomi dalam negeri.

Kelapa sawit
Arief Kamaludin|KATADATA
Petani memanen buah kelapa sawit di salah satu perkebunan kelapa sawit di Desa Delima Jaya di Kecamatan Kerinci, Kabupaten Siak, Riau.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyatakan pegerakan harga minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) sedikit banyak turut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional. Sebab, pergerakan harga komoditas ini disebut turut mempengaruhi kesejahteraan masyarakat, khususnya petani sawit di daerah.

Wakil Ketua Umum Gapki Bidang Perdagangan Togar Sitanggang menggambarkan grafik harga CPO sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.Dia mencontohkan, seperti yang terjadi pada 2009 ketika harga sawit US$ 0,66 per kilogram, pertumbuhan ekonomi saat itu 4,6%. Setahun kemudian, ketika harga sawit meningkat menjadi US$ 0,86 per kilogram, pertumbuhan ekonomi juga naik sebesar 6,2%.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

(Baca : Permintaan Global Belum Membaik, Gapki Estimasi Ekspor CPO Turun 5%)

Di tahun berikutnya yakni pada 2011, harga sawit kembali meningkat sebesar US$ 1,02 per kilogram, ekonomi Indonesia kembali bergerak naik sebesar 6,3%. Namun, ketika harga harga sawit menjadi mulai turun menjadi US$ 0,92 per kilogram pada 2012, capaian pertumbuhan ekonomi juga tercatat melambat 6,1%.

Demikian halnya ketika harga sawit terus merosot hingga 2015 sebesar US$ 0,56 per kilogram, pertumbuhan ekonomi juga terus melambat di kisaran 4,9% dan seterusnya hingga 2017, yang mana tren yang terjadi  selalu sama.

"Ini bukti harga sawit punya peran untuk perekonomian dan kesejahteraan petani," kata Togar di Jakarta, Kamis (27/9).

Karenanya, untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan menjadikan komoditas sawit bisa lebih diterima luas, menurutnya industri sawit  berkelanjutan menurutnya harus terus didorong, sekaligus sebagai jawaban dalam Sustainable Development Goals (SDGs) dalam upaya penghapusan kemiskinan, pengentasan kelaparan, peningkatan pekerjaan dan ekonomi, pengurangan ketidaksetaraan, serta tanggung jawab terhadap konsumsi dan produksi.

(Baca : Perang Dagang Berpotensi Memukul Ekspor Komoditas Andalan)

"Keberlanjutan harus menyangkut aspek sosial, lingkungan, dan ekonomi," ujarnya.

Hal itu juga dirasakan oleh Asosiasi Petani Sawit Swadaya Amanah sebagai penerima sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). Amanah berlokasi di Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau dengan pendanaan United Nations Development Programme (UNDP).

Ketua Amanah Sunarno menyebutkan banyak keuntungan menjadi petani sawit swadaya bersertifikat ISPO seperti adanya perbaikan taraf hidup. "Taraf hidup kami semakin meningkat jika pengelolaan sawit sesuai dengan aspek keberlanjutan," kata Sunarno.

Sementara itu, Director of Communication of Aidenvironment Asia Eric Walker mengungkapkan bahwa isu keberlanjutan dalam pengelolaan kelapa sawit mesti terus ditingkatkan.

Alasannya, predikat produsen sawit terbesar seperti yang disandang Indonesia dan Malaysia saat ini masih menjadi sorotan karena masih lekat kaitannya dari aspek lingkungan, Hak Asasi Manusia (HAM), pembakaran hutan, dan perlindungan orang utan. 

Reporter: Michael Reily