Hadapi Perang Dagang, Indonesia Serukan Kerja Sama 'Blok Selatan'

Penulis: Redaksi

Editor: Muchamad Nafi

Selasa 9/10/2018, 16.42 WIB

Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok berdampak besar pada pasar global sehingga menjadi tantangan bagi pemerintahan seluruh dunia.

Pelabuhan Ekspor
Agung Samosir|KATADATA

Perang dagang yang sedang dikobarkan Amerika Serikat ke sejumlah negara –melalui penaikan tarif bea masuk- tak luput dari pembahasan di sekitar sidang tahunan Dana Moneter Internasional (IMF)-Bank Dunia. Di Bali, Wakil Menteri Keuangan Indonesia Mardiasmo mengatakan ketegangan perdagangan dan ketidakpastian ini memberikan konsekuensi terhadap pasar.

Akibat perang dagang tersebut, tarif impor meningkatan signifikan sehingga semakin menekan volume dan kinerja ekspor. “Keadaan ekonomi global saat ini menuntut pentingnya kerja sama “Selatan-Selatan”, terutama untuk menciptakan respons serta strategi dalam menangani berbagai situasi yang terjadi,” kata Mardiasmo, Selasa (9/9/2018).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

(Baca: Perang Dagang AS-Tiongkok Memanas, RI Berpeluang Rebut Pasar Ekspor).

‘Blok Selatan’ merupakan negara-negara di sisi selatan dunia. Kerap juga disebut sebagai negara berkembang dengan rata-rata pendapatan relatif rendah. Infrastrukturnya kerap minim. Demikian juga dengan indeks perkembangan manusianya. Australia dan Selandia Baru diperkecualikan dari blok ini

Mardiasmo menyampaikan pentingnya hal tersebut dalam diskusi panel bertajuk “The Growing Importance of South-South Cooperation Amid Trade Tensions and Global Financial Market Volatility dalam rangkaian sidang IMF-Bank Dunia. Acara ini diselenggarakan oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/Indonesia Eximbank.

Seperti diketahui, LPEI bertugas untuk menyelenggarakan Program Ekspor Nasional. Prioritas pembiayaannya yaitu mempertahankan kemampuan industri padat karya, menumbuhkan efek beruntun ekonomi rakyat, dan mengembangkan chanelling produk Indonesia di pasar ekspor.

(Baca juga: Memanas, Tiongkok Balas Serang AS dengan Tarif Impor Rp 888 Triliun).

Diskusi panel ini untuk mendapatkan pandangan para ahli dari pemerintah, Bank Sentral, Eximbank, serta institusi keuangan lainnya untuk memperkuat daya saing usaha kecil menengah (UKM) yang berorientasi ekspor dalam e-commerce global.

Menurut Mardiasmo, perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok berdampak besar pada pasar global. Keadaan ini merupakan tantangan bagi pemerintahan seluruh dunia untuk menetralisasi keadaan dan tetap menjaga kesejahteraan masyarakat termasuk Indonesia. “Pemerintah akan mendukung penuh sektor industri dan mereformasi perpajakan,” ujarnya.

Ketegangan perdagangan dan ketidakpastian dalam perang tarif memang berdampak terhadap pasar berkembang. Peningkatan signifikan terhadap tarif impor semakin menekan volume perdagangan internasional dan kinerja ekspor. Tingginya ketergantungan terhadap dolar Amerika memperparah akan beban pembiayaan eksportir.

(Baca pula: Sisi Positif Perang Dagang, Ekspor Minyak Sawit Juli Melejit).

Karena itu, kata Mardiasmo, di sinilah pentingnya Kerja Sama Selatan-Selatan, terutama untuk menciptakan respon serta strategi yang potensial untuk mengatasi situasi tadi. Apalagi, target Kerja Sama Selatan-Selatan untuk membuka peluang serta penetrasi pasar.