Luhut: Presiden Berani Naikkan Harga BBM kalau Diperlukan

Penulis: Hari Widowati

Editor: Arnold Sirait

Rabu 10/10/2018, 11.35 WIB

Presiden akan meminta pendapat dari pelaku pasar dan pengusaha sebelum menaikkan harga BBM.

Press Briefing Gub BI
Arief Kamaludin | KATADATA

Pemerintah membuka peluang menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis subsidi dan Premium. Ini seiring dengan tren harga minyak dunia yang terus naik.  

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Presiden Joko Widodo akan menerima semua masukan mengenai kondisi perekonomian saat ini. Presiden juga akan terlebih dulu menanyakan pelaku pasar dan pengusaha sebelum menaikkan harga BBM. 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Jika kondisi saat ini dirasa perlu, harga kenaikan harga BBM itu akan dinaikkan. "Presiden kalau merasa perlu, akan dilakukan. Tinggal soal waktu dan besarannya," ujar dia saat menjawab pertanyaan pengusaha Chairul Tanjung di Peluncuran CNBC Indonesia, di The Trans Resort Bali, Rabu (10/10). 

Saat ini, harga minyak mentah mengalami tren kenaikan. Harga minyak jenis Brent sudah mencapai level US$ 80 per barel. Bahkan, harga minyak Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) sudah menyentuh level tertinggi sejak awal tahun yakni US$ 74,88 per barel. Padahal, asumsi ICP dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 hanya US$ 48 per barel. 

Adapun, hingga kini harga BBM subsidi jenis Solar sebesar Rp 5.150 per liter. Sementara itu, harga Premium di non Jamali sebesar Rp 6.450 per liter dan di Jamali Rp 6550 per liter. Kedua, jenis BBM ini tidak mengalami perubahan harga April 2016. Bahkan, pemerintah berencana menahan harga BBM hingga 2019. 

Kebijakan menahan harga itu pun berdampak pada keuangan PT Pertamina (Persero). Apalagi, harga Premium tidak masuk dalam anggaran subsidi. Berdasarkan audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang tertuang dalam IHPS I-2018, pendapatan Pertamina berkurang sebesar Rp 26,30 triliun akibat adanya selisih harga keekonomian dan harga jual eceran. 

Selain kedua jenis BBM tersebut, harga Pertalite tidak berubah sejak Maret 2018. Untuk wilayah DKI Jakarta, harga BBM beroktan 90 itu hingga kini yakni Rp 7.800 per liter. 

Sementara itu, Pertamina sudah menaikkan harga Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex, dan Biosolar Non PSO. Harga Pertamax Rp 10.400 per liter dari sebelumnya Rp 9.500 per liter. Lalu, Pertamax Turbo naik Rp 1.550 per liter menjadi Rp 12.250 per  liter.

(Baca: Pertamina Naikkan Harga BBM Nonsubsidi Mulai Hari Ini)

Pertamina Dex naik menjadi Rp 11.850 per liter dari sebelumnya Rp 10.500 per liter, Dexlite naik dari Rp 9.000 per liter jadi Rp 10.500 per liter. Adapun harga Biosolar Non PSO kini Rp 9.800 per liter, awalnya Rp 7.700 per liter