Sentimen Global Pukul IHSG, Analis: Penguatan Tergantung Rupiah

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Martha Ruth Thertina

Kamis 11/10/2018, 17.43 WIB

IHSG ditutup anjlok 2,02% setelah tiga hari berturut-turut mengalami kenaikan. Penurunan lebih tajam dialami indeks utama di Asia.

Bursa saham
Katadata | Arief Kamaludin

Laju positif Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) sejak awal minggu ini terhenti pada perdagangan Kamis (11/10). Indeks ditutup terkoreksi 2,02% ke level 5.702, mengekor penurunan tajam di bursa Amerika dan Eropa pada perdagangan sehari sebelumnya.

IHSG anjlok bersama indeks Asia lainnya. Indeks Nikkei 225 terkoreksi 3,89%, Hang Seng turun 3,54%, dan CSI 300 terkoreksi 4,8%. Indeks di bursa Eropa juga melanjutkan pelemahan pada perdagangan Kamis ini. Saat berita ini ditulis, Euro Stoxx 50 Pr turun 1,29%, FTSE 100 turun 1,71%, dan Dax turun 1,29%.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji mengatakan, ada beberapa penyebab pasar saham global melemah, seperti potensi bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), menaikkan kembali bunga acuan hingga keputusan Tiongkok mendevaluasikan mata uangnya, Yuan, untuk menggenjot ekspor. "Semuanya menyebabkan terjadinya ketidakpastian global," kata dia kepada Katadata.co.id, Kamis (11/10).

(Baca juga: Kekhawatiran Perang Dagang Picu Aksi Jual Besar di Bursa Saham Global)

Di sisi lain, Kepala riset Trimegah Securities Sebastian Tobing mengatakan, kejatuhan indeks di bursa AS yang merembet ke Asia juga disebabkan lantaran valuasi saham yang sudah terlalu mahal. Alhasil, investor melakukan aksi ambil untung. "Mau naik berapa persen lagi?" kata dia.

Pada perdagangan Jumat (12/10) esok, Sebastian melihat adanya potensi IHSG kembali ke zona hijau, jika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa dijaga stabil. Pada Kamis ini, nilai tukar rupiah diperdagangkan pada kisaran 15.223-15.267 per dolar AS di pasar spot.

Adapun pada perdagangan Kamis ini, penurunan indeks terjadi seiring dengan semakin derasnya aksi jual oleh investor asing. Mengacu pada data RTI, investor asing membukukan penjualan bersih sebesar Rp 1,08 triliun, sementara investor domesti 1,07 triliun.

Sebanyak 78 saham mengalami kenaikan, 337 saham terkoreksi, dan 93 saham stagnan. Seluruh indeks sektoral mengalami koreksi, yang terbesar yaitu sektor Aneka Industri yang turun 2,92%, disusul sektor Finansial 2,68%, lalu sektor Tambang 2,46%.

PT Superkrane Mitra Utama Tbk (SKRN) yang baru mencatatkan diri di pasar modal hari ini,  menempati posisi top gainer dengan kenaikan harga saham hingga 50% menjadi Rp 1.050 per lembar. Sementara, saham PT Cottonindo Ariesta Tbk (KPAS) yang kemarin menjadi top gainer, hari ini menjadi emiten yang menempati top loser dengan penurunan harga saham sebesar 24,73% menjadi Rp 136 per lembar.