Bahas Kondisi Global, OJK Temui Regulator Korea dan Jepang

Penulis: Hari Widowati

Jum'at 12/10/2018, 05.53 WIB

Di sektor perbankan, OJK, FSS, dan FSA membahas isu-isu yang terkait dengan Basel Committee.

OJK
KATADATA/HARI WIDOWATI
Pertemuan OJK dengan regulator sektor keuangan Korea dan Jepang.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bertemu dengan Financial Supervisory Service (FSS) Korea dan Financial Services Agency (FSA) Jepang untuk membahas kondisi ekonomi global dan kebijakan di sektor keuangan. Hasil pertemuan ini akan menjadi rekomendasi di forum internasional.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, Indonesia, Korea Selatan, dan Jepang merupakan negara anggota ASEAN+3. "Pertemuan informal ini membicarakan hal-hal yang akan dibawa ke forum internasional. Kami bicarakan kebijakan sektor keuangan dan apa saja yang terjadi akibat ekonomi global," ujar Wimboh usai pertemuan tersebut di Hotel Ayana, Bali, Kamis (11/10) malam.

Dengan adanya pertemuan tersebut, ada rekomendasi yang sama yang diusung otoritas keuangan ketiga negara tersebut di forum internasional. Di sektor perbankan, OJK membahas isu-isu yang terkait dengan Basel Committee. OJK, FSS, dan FSA juga membahas perkembangan regulasi di masing-masing negara.

"Fintech (financial technology) juga dibicarakan, di negara mereka aturannya bagaimana. OJK sudah mengeluarkan aturan fintech sehingga tidak ada perbedaan treatment yang jauh soal fintech," ujar Wimboh.

Untuk pendalaman pasar keuangan, OJK juga belajar dari Jepang dan Korea mengenai berbagai instrumen yang mereka gunakan. "Di Jepang cukup maju dalam hal currency hedging, ini juga bisa diterapkan (di Indonesia)," kata Wimboh.

(Baca: Sektor Keuangan Perlu Waspadai Tekanan Ekonomi Global)

Fintech di Pasar Modal

Salah satu perkembangan fintech yang cukup pesat di sektor jasa keuangan adalah supermarket (marketplace) reksadana. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen mengatakan, pemanfaatan kanal teknologi untuk distribusi reksadana menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.

"Hanya dalam waktu enam bulan, fintech marketplace bisa menambah 120 ribu akun nasabah," kata Hoesen. Fintech memperluas jangkauan para pengelola reksadana, khususnya kepada nasabah berusia muda yang melek teknologi dan memanfaatkan smartphone dalam aktivitas sehari-hari. Berdasarkan data OJK, jumlah investor reksadana per Juli 2018 mencapai 822 ribu investor. 

Di pasar saham, perusahaan-perusahaan sekuritas juga sudah memiliki teknologi online trading. "Ke depan, investor bisa buka transaksi saham lewat fintech," ujar Hoesen.

(Baca: Langkah OJK Memagari  Sisi Negatif Fintech Pembiayaan)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha