Harga Sawit Anjlok, Pengusaha Sulit Ajukan Kredit Bank

Penulis: Michael Reily

Editor: Ekarina

Jum'at 30/11/2018, 09.30 WIB

Pihak yang paling terdampak dari rendahnya harga CPO terkait permodalan dari perbankan adalah petani sawit seiring dengan potensi resiko gagal bayar.

sawit
ANTARA FOTO/Budi Candra Setya

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia menyatakan pelemahan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dunia berpotensi menyebabkan pengusaha menahan ekspansi maupun menunda pengajuan kredit ke perbankan.  Dengan harga minyak kelapa sawit dinilai kurang mendukung  pengembangan bisnis industri sawit saat ini.

"Perusahaan mungkin saat ini akan menahan dan tidak akan mengajukan dulu (pinjaman)," kata Wakil Ketua Bidang Perdagangan Gapki Togar Sitanggang di Jakarta, Kamis (29/11).

Di samping itu, pengusaha juga pesimistis pengajuan kreditnya akan dikabulkan pihak perbankan karena dengan pelemahan harga komoditas saat ini dinilai memiliki sejumlah resiko. Namun, dia mengaku hingga saat ini belum mendengar laporan soal penolakan kredit usaha tersebut.

(Baca: Harga CPO Anjlok, BCA Tidak Berani Salurkan Kredit ke Debitor Baru)

Menurutnya, pihak yang paling terdampak rendahnya harga CPO terkait permodalan dari perbankan adalah petani sawit karena ada kemungkinan resiko gagal bayar kredit. "Ini salah satu perhatian utama, karena harganya anjlok dalam waktu yang terlalu lama," ujarnya.

Kondisi pelemahan komoditas ini juga kemungkinan menyebabkan Program Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan kepada petani tak bisa tersalurkan. 

Fluktuasi harga komoditas memang menjadikan perbankan menjadi lebih selektif menyalurkan kredit. 

(Baca juga: Harga CPO Anjlok, Pemerintah Bebaskan Sementara Pungutan Ekspor Sawit)

Presiden Direktur PT Bank Central Asia (BCA) Tbk Jahja Setiaatmadja  sebelumnya mengatakan mengatakan BCA tetap menyalurkan kredit kepada pengusaha sawit meski harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) tengah anjlok. Namun,  pemberian kredit mungkin tak akan diberikan kepada debitor baru di sektor tersebut.

"Kalau pemain baru kami relatif tidak berani kasih pinjaman, kalau pemain lama, harga US$ 450 per ton pun masih profitable," kata Jahja.

Kredit kepada pemain baru dinilai lebih berisiko lantaran dinilai tidak mempunyai lahan yang banyak dan tidak memiliki perjanjian kerja sama pengolahan.

Ia pun mengatakan kredit pada sektor tersebut masih tumbuh. "Apalagi ada perusahan lama mereka mau expand (perluas bisnis), kami akan bantu," ujarnya.

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha