Inalum Tak Akan Terima Dividen dari Freeport Selama Dua Tahun

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Arnold Sirait

9/1/2019, 22.09 WIB

Inalum tak menerima dividen karena pendapatan Freeport berkurang akibat turunnya produksi.

Freeport
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Sejumlah Haul Truck dioperasikan di area tambang terbuka PT Freeport Indonesia di Timika, Papua.

PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) tidak akan mendapatkan dividen dari PT Freeport Indonesia hingga dua tahun mendatang. Ini karena pendapatan Freeport akan menurun selama periode tersebut.

Direktur Utama PT Inalum Budi Gunadi Sadikin menyatakan pendapatan Freeport turun, karena cadangan konsentrat dari tambang terbuka (open pit) habis. Sedangkan saat ini PTFI mulai memasuki masa transisi ke tambang bawah tanah (underground).

Namun, Budi mengatakan Inalum akan mulai mendapatkan dividen pada 2021. Ini karena tambang bawah tanah Freeport sudah mulai beroperasi.

Alhasil, 2023 Inalum baru akan mendapat jumlah deviden dengan jumlah yang stabil."Bottom line nya kami tidak dapat dividen dua tahun, 2021 mulai dapat sedikit," kata dia di Jakarta, Rabu (9/1).

Sedangkan, untuk berinvestasi di tambang Grasberg tersebut, Inalum harus mengeluarkan dana sebesar US$ 1,1-1,4 miliar per tahun, hingga 2023.

Dari besaran dana yang telah dikeluarkan Inalum untuk Freeport, pihaknya optimistis bisa melunasi surat utang yang diterbitkan untuk mengakuisisi Freeport, dan tidak mengganggu keuangan perusahaan. "Bunganya kecil, kami juga sudah perhitungkan," ungkap Budi.

Seperti diketahui, Inalum menerbitkan obligasi global pada bulan November 2018 senilai US$ 4 miliar atau sekitar Rp 58,4 triliun yang dicatatkan di Amerika Serikat (AS). Obligasi global tersebut dalam empat seri. Seri pertama dengan nilai pokok US$ 1 miliar memiliki tenor tiga tahun atau jatuh tempo pada 2021 dengan bunga 5,5%.

(Baca: Produksi Freeport Tahun Ini Berkurang Hampir Separuh 2018)

Seri kedua dengan nilai pokok US$ 1,25 miliar bertenor lima tahun atau jatuh tempo 2023 dengan bunga 6%. Seri ketiga dengan nilai pokok US$ 1 miliar memiliki tenor 10 tahun atau jatuh tempo 2028 menawarkan bunga 6,875%. Seri keempat dengan nilai pokok US$ 750 juta bertenor 30 tahun atau jatuh tempo 2048 dengan bunga 7,375%.

Reporter: Fariha Sulmaihati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha