Dilepas Stanchart, Saham Bank Permata Bakal Jadi Rebutan

Penulis: Hari Widowati

26/2/2019, 16.47 WIB

Stanchart diperkirakan dapat mengantongi dana US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun dari penjualan sahamnya di Bank Permata.

Bank permata
Katadata | Arief Kamaludin

Sejumlah bank dan institusi keuangan global diperkirakan akan berebut untuk mendapatkan saham PT Bank Permata Tbk (BNLI). Setelah Standard Chartered Bank Plc mengumumkan rencananya untuk melepas asetnya di Indonesia, beberapa calon investor yang disebut-sebut berminat menggantikan posisinya, dari PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) hingga Sumitomo Mitsui Financial Group dan Mizuho Financial Group dari Jepang.

Harga saham PT Bank Permata Tbk (BNLI) melompat hingga 7% ke level Rp 1.115 per saham setelah Group CEO Standard Chartered Bank Plc Bill Winters mengumumkan rencananya melepas aset-asetnya di beberapa negara, termasuk Indonesia. Saat ini Stanchart memiliki 44,56% saham Bank Permata. Indonesia disebutnya sebagai salah satu pasar yang memberikan imbal hasil rendah selain India, Korea, dan Uni Emirat Arab.

Menurut Winters, aset-aset yang akan dilepas di beberapa negara tersebut merupakan aset non-inti. Langkah ini merupakan bagian dari strategi Stanchart periode 2019-2021 untuk meningkatkan imbal hasil investasinya menjadi lebih dari 10% dari sekitar 5% pada saat ini.

Menurut Financial Times, Stanchart berpeluang mengantongi dana US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun dari penjualan sahamnya di Bank Permata dengan valuasi harga saham di pasar saat ini. Keputusan tersebut juga akan mengurangi aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) Stanchart sekitar US$ 9 miliar atau setara Rp 126 triliun.

Kabar soal pelepasan kepemilikan saham Stanchart di Bank Permata ini sebenarnya sudah berhembus sejak akhir tahun lalu. Rumor soal kemungkinan akusisi bank-bank lain terhadap Bank Permata telah membuat harga saham bank ini melejit sekitar 64% sejak awal tahun ini.

Bank Mandiri disebut sebagai salah satu bank yang berminat mengakuisisi Bank Permata. Sebelumnya, Direktur Utama Bank Mandiri Kartiko Wirjoatmodjo mengatakan, perseroan berencana mengakuisisi lembaga jasa keuangan atau bank berskala menengah dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) tahun ini.

"Apabila berminat untuk mengambil bank, tentu kami akan meminta melihat valuasi yang sesuai. Karena memang kalau bersaing dengan bank asing, valuasinya tinggi," ujar Kartiko, di Jakarta, Senin (28/1).

Bank Mandiri memiliki modal berlebih sekitar Rp 30 triliun-Rp 35 triliun pada akhir 2018. Rasio kecukupan modal bank pelat merah tersebut berada di level 20,98% sehingga mampu mendukung aksi korporasi tersebut. Sayangnya, kabar ini kembali mental karena manajemen Bank Mandiri membantah adanya spekulasi yang menyebut bank tersebut melakukan due diligence (uji tuntas) terhadap Bank Permata.

(Baca: Rencana Bisnis 2019, Mandiri Ingin Akuisisi Bank Kelas Menengah )

Dilirik Bank Jepang

Beberapa nama bank Jepang juga muncul, seperti Sumitomo Mitsui Financial Group, Japan Post Bank, Mitsubishi UFJ Financial Group hingga Mizuho Financial Group. Sumitomo Mitsui telah memiliki PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) yang dimerger dengan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia.

Mitsubishi UFJ juga memiliki saham di PT Bank Danamon Indonesia Tbk dan PT Bank Nusantara Parahyangan (BNP), kedua bank itu juga dalam proses merger. Mizuho juga memiliki PT Bank Mizuho Indonesia. Hanya Japan Post Bank yang belum memiliki saham di perbankan Indonesia.

Salah satu alasan perbankan Jepang membidik Indonesia lantaran imbal hasil yang diberikan perbankan Indonesia lebih tinggi dibandingkan di Jepang. Rata-rata net interest margin (NIM) perbankan Indonesia berada di level 5,14% per Desember 2018 sedangkan di Jepang NIM sekitar 1,38%.

Namun, Nikkei Asian Review dalam laporan terakhirnya menyebut bank-bank raksasa asal Jepang itu tengah mengerem ekspansinya di Asia, baik dari sisi aset maupun penyaluran kredit. Hal ini dilakukan MUFG dan Sumitomo karena prospek pertumbuhan ekonomi di Asia diperkirakan melambat akibat dampak perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok.

Penyaluran kredit MUFG ke luar negeri tahun lalu turun 2,7% menjadi US$ 406 miliar, sepertiga dari kredit tersebut dialokasikan ke Asia. Sedangkan penyaluran kredit Sumitomo ke Asia stagnan di US$ 89 miliar. Hanya Mizuho yang masih cukup agresif meningkatkan penyaluran kreditnya di Asia dengan pertumbuhan 19% menjadi US$ 259,3 miliar pada 2018.

(Baca: OJK Masih Kaji Rencana Revisi Aturan Kepemilikan Tunggal Bank)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan