Jonan: Lebih Baik Mobil Listrik Ketimbang Genjot Produksi Minyak

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Safrezi Fitra

2/4/2019, 08.56 WIB

Menurut Jonan, pengembangan mobil listrik bisa lebih cepat dilakukan ketimbang meningkatkan produksi minyak.

Jonan: Lebih Baik Mobil Listrik Ketimbang Genjot Produksi Minyak
ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf
Menteri ESDM Ignasius Jonan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengungkapkan pentingnya peralihan konsumsi energi saat ini. Sudah saatnya sektor transportasi mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dan beralih menggunakan listrik.

"Kendaraan listrik ini perlu, mending kembangkan ini daripada meningkatkan produksi minyak," ujarnya saat mengisi sebuah acara seminar di Balai Sidang, Universitas Indonesia, Senin (1/4).

Menurut Jonan upaya meningkatkan produksi minyak memerlukan waktu yang sangat panjang. Sebelum 1998, kegiatan eksplorasi untuk menemukan sumber minyak baru membutuhkan waktu tujuh tahun. Sekarang, waktu yang dibutuhkan lebih panjang, mencapai 15 tahun. Banyak kendala yang dihadapi kontraktor migas, salah satunya aturan di sektor migas yang menyulitkan, terutama di daerah.

(Baca: Defisit Produksi Migas Diprediksi Akan Membesar di 2025-2050)

Sementara, dia menilai pengembangan kendaraan listrik bisa dilakukan lebih cepat. Dengan mengembangkan kendaraan listrik, konsumsi BBM bisa ditekan. Penggunaan kendaraan listrik juga dapat mengurangi polusi akibat sisa hasil pembakaran bahan bakar di dalam mesin kendaraan.

Beberapa negara di dunia pun sudah menggunakan kendaraan listrik. "Saya di Italia pakai nissan. Di Indonesia yang saya tidak mengerti, pengusaha mobil tidak ada yang memulai mengembangkan mobil listrik," kata Jonan. (Baca: Bidik Pasar Australia, Menperin Siapkan Industri Mobil Listrik)

Jonan mengatakan pengalihan energi ini bukan lagi karena masalah uang, tapi lebih pada pemanfaatan jangka panjang. Saat ini Indonesia harus mengimpor minyak untuk memenuhi sebagian kebutuhan dalam negeri.

Produksi minyak siap jual atau lifting, terus mengalami penurunan tiap tahun. Defisit produksi minyak dan gas bumi (migas) Indonesia diperkirakan akan semakin membesar mulai 2025 dan mencapai puncaknya pada 2050. 

Ketua Ikatan Alumni Teknik Geologi IAGL ITB Syamsu Alam mengatakan hingga 2050 kebutuhan migas khususnya minyak meningkat hingga 2-3 juta barel per hari (bph). Di sisi lain, cadangan migas Indonesia terus berkurang, hanya 3,5 miliar setara minyak atau hanya 0,2 persen dari cadangan minyak dunia.

Dia mengungkapkan produksi minyak saat ini 800 ribu bph, sebanyak 200 ribu bph di antaranya berasal dari Banyu Urip. "Kalau tidak ada Banyu Urip, produksi hanya 500 ribuan. Kalau tidak menemukan Banyu Urip lainnya, kita akan menghadapi masalah besar nantinya,” ujar Syamsu dalam sebuah seminar di Jakarta, beberapa waktu lalu.

(Baca Databoks: Defisit Neraca Perdagangan Migas Indonesia 2018 Terburuk?)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan