Smelter Freeport di Gresik Dipastikan Mulai Beroperasi 2022

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Pingit Aria

6/5/2019, 12.49 WIB

Smelter Freeport membutuhkan dana investasi sekitar US$ 2,8 miliar.

Telaah - Freeport
Iurii Kovalenko/123rf

PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan pabrik pengolahan dan pemurnian miliknya di Gresik, Jawa Timur bisa mulai beroperasi pada 2022. Hingga Februari 2019, progres pembangunan smelter Freeport telah mencapai 3,86%.

Direktur Utama PT Freeport Indonesia Tony Wenas menjelaskan, sebagian lahan untuk membangun smelter telah siap. Selanjutnya akan dilakukan pemadatan secara paralel di lahan inti sekitar 35 hektare (ha).

"Sekitar 35 hektare dilakukan pemancangan paku bumi sambil menunggu kesiapan lahan lainnya," ujar Tony, dalam keterangan pers, Minggu (6/5).

Rencananya, smelter tersebut akan mengelola dua juta ton konsentrat, dan membutuhkan dana investasi sekitar US$ 2,8 miliar. Menurut Tony, banyak lembaga keuangan berminat membiayai proyek itu, baik dalam maupun luar negeri.

Pembangunan smelter ini sejalan dengan Undang-Undang (UU) Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu bara (Minerba), agar tidak mengekspor bahan mentah, perusahaan tambang diwajibkan melakukan pemurnian untuk meningkatkan nilai tambah produk hasil pertambangan.

(Baca: Menteri Jonan Minta Masyarakat Buang Perasaan Freeport Milik Asing)

Melalui tim pengawasan independen (independent verificator), pemerintah akan mengevaluasi progres pembangunan dalam rentan waktu enam bulan sekali. Jika tidak mencapai target yang telah ditentukan setiap enam bulan, maka izin ekspor perusahaan tersebut akan dicabut.

"Izin ekspor itu setiap tahun dikeluarkan, dan evaluasinya setiap enam bulan. Syaratnya harus membangun smelter sesuai dengan rencana," kata Direktur Jenderal Minerba Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bambang Gatot Ariyono.

Grafik:

Adapun mulai dari tahun 2016 hingga 2018 sudah ada 27 smelter yang beroperasi. Rinciannya, pada 2016 terdapat 20 smelter mulai beroperasi yaitu dua smelter tembaga milik PT Batutua dan PT Smelting. Lalu, 12 smelter nikel milik PT Aneka Tambang Tbk, PT Vale Indonesia, PT Fajar Bhakti, PT Sulawesi Mining Investment, PT Gabe, PT Cahaya Modern, PT Indoferro, PT Century Guang Ching, PT Titan, PT Bintang Timur, dan PT Megah Surya Pertiwi.

Kemudian, ada dua smelter besi milik PT Delta Prima Steel, PT Maratus Jaya. Dua smelter bauksit, milik PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) dan PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW). Sedangkan, dua smelter mangan,milik PT Indotama Ferro dan PT Primer.

(Baca: Antam Targetkan Smelter Nikel di Halmahera Rampung 2020)

Pada 2017 ada tiga smelter yang telah beroperasi. Pabrik itu milik PT Virtue Srago, PT COR Industry Indonesia, dan PT Surya Saga Utama. Sementara itu, dua smelter bauksit, milik PT Sebuku Iron Lateratic Ores dan PT Sumber Baja Prima. Kemudian, pada 2018 ada dua smelter yang beroperasi yaitu smelter nikel milik PT Virtue Dragon dan PT Bintang Smelter Indonesia.

Reporter: Fariha Sulmaihati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan