Pemanfaatan Limbah Smelter Menunggu Regulasi Kementerian LHK

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Agung Jatmiko

14/6/2019, 16.10 WIB

Jumlah slag yang telah tertumpuk di smelter saat ini telah mencapai 17 juta ton. Jumlah slag ini bakal meningkat seiring dengan proyek pembangunan smelter

slag, smelter, pemanfaatan slag
ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman
Ilustrasi, biji feronikel PT Aneka Tambang Tbk.

Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Kementerian ESDM Yunus Saefulhak menyatakan limbah tambang (slag) yang berasal dari pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) belum bisa dimanfaatkan.

Ia menyebutkan, slag dari smelter belum bisa dimanfaatkan karena Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) belum mengeluarkan regulasi terkait pengelolaan limbah smelter.

Slag yang dihasilkan dari pengolahan smelter nikel ataupun tembaga menurut Yunus selama ini dianggap sebagai limbah Bahan Berbaya dan Beracun (B3), sehingga tidak bisa dimanfaatkan.

Padahal, jika berkaca dari negara lain, slag bisa dijadikan sebagai bahan baku bangunan, bahan pengerasan jalan, bahkan bisa dijadikan bahan baku pembuatan pupuk tanaman.

Pemanfaatan slag dari smelter sendiri sudah dilakukan di beberapa negara, seperti Kanada dan Amerika Serikat (AS).

"Nanti dari Kementerian LHK yang akan melakukan perubahan regulasi atau mungkin akan ada pedoman khusus," ujar Yunus saat ditemui di Jakarta, Jumat (14/6).

Menurutnya, jumlah slag yang telah tertumpuk di smelter saat ini telah mencapai 17 juta ton. Slag ini berasal dari beberapa perusahaan seperti PT Aneka Tambang (Antam), PT Megah Surya Pertiwi, PT Virtue Dragon dan PT Vale Indonesia.

(Baca: Pemerintah Rencanakan Pemanfaatan Limbah Tambang Smelter)

Ia mengkhawatirkan, slag bakal semakin menumpuk seiring dengan perkembangan proyek pembangunan smelter di Indonesia. Oleh karena itu, Yunus berharap dalam waktu dekat ada perubahan regulasi atau pedoman dari Kementerian LHK, agar bisa mengoptimalkan pemanfaatan limbah tambang.

Yunus juga mengatakan Kementerian ESDM mengargetkan smelter limbah yang terletak di Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah bisa beroperasi pada tahun ini.

Smelter limbah tambang yang dibangun oleh PT Kapuas Prima Citra ini memiliki kapasitas 36 ribu konsentrat timbal, dan dapat memproduksi 22 ribu ton timbal bullion per tahun.

"Fasilitas pemurnian ini merupakan salah satu pionir industri pemurnian," ujar Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Yunus Saefulhak kepada katadata.co.id, Selasa (21/5).

Keberadaan smelter limbah tambang tersebut diharapkan dapat mendorong perkembangan industri berbasis mineral timbal dan seng.

Selain smelter limbah tambang, ia menyebut ada dua smelter lainnya yang akan beroperasi tahun ini, yaitu smelter nikel milik PT Wanatira Persada dan Antam.

(Baca: Pabrik Pemurnian Limbah Tambang Pertama RI Beroperasi Tahun Ini)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan