Bandara Kertajati, Aerocity Pertama di Indonesia

Penulis: Dwi Hadya Jayani

Editor: Hari Widowati

2/7/2019, 09.26 WIB

Kebijakan pemerintah mengalihkan 13 rute penerbangan domestik dari Bandara Husein Sastranegara ke Bandara Kertajati membuat Bandara Husein sepi penumpang.

Bandara Kertajati, operasional Bandara Kertajati, maskapai penerbangan yang beroperasi di Kertajati
ANTARA FOTO/M Agung Rajasa
Terminal penumpang di Bandara Kertajati seluas 96.000 m2 dengan kapasitas penumpang 5-12 juta penumpang per tahun.

Bandara Kertajati resmi melayani rute penerbangan domestik dengan tujuan luar Pulau Jawa pada Senin, (1/7). Bandara Kertajati dikelola langsung oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemprov Jawa Barat, Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB), dan PT Jabar Bumi Kontruksi. Bandara ini merupakan bandara yang pertama kali menerapkan konsep aerocity atau kota bandara yang bertujuan untuk mengembangkan perekonomian di sekitar bandara.

Vice President Coldwell Banker Commercial Dani Indra Bhatara, menyebutkan konsep aerocity dapat dimanfaatkan untuk residensial komersial, industri, dan pergudangan. Jika skala pengembangannya besar, aerocity dapat menjadi kota sendiri.

Hal tersebut terkait dengan model bisnis yang dirancang oleh BIJB, yaitu 3A (Airport, Aerocity, dan Amenities). Model bisnis ini memberikan ruang untuk pengembangan area komersial di Bandara Kertajati, seperti pembangunan hotel, fasilitas haji dan umroh, kawasan penjualan hingga ruang untuk pengembangan penduduk kota dan kawasan industri. Bandara Kertajati yang memiliki luas 3.480 Ha juga ditargetkan menjadi bandara dengan taraf internasional.

Sebagai contoh BIJB memberi kesempatan kepada masyarakat untuk turut mengembangkan kawasan bisnis di Bandara Kertajati. Kesempatan tersebut antara lain, memberikan kesempatan untuk menjadi investor dan operator di kawasan haji dan umroh dengan luas 750m2 untuk penumpang dan 565 m2 untuk keluarga atau pengantar.

Selanjutnya, BIJB memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menjadi sponsor di simulator penerbangan yang memiliki luas area 606 m2. BIJB juga memberikan sewa untuk membuka usaha komersial, seperti pakaian, makanan, dan minuman dengan total area seluas 15.201 m2.

 

Visi BIJB pada periode 2017 hingga 2021 adalah menjadi salah satu dari lima besar perusahaan pengelola bandara dan aerocity di ASEAN. Selain itu, selama 30 tahun ke depan, BIJB memiliki target sebagai berikut:

(Baca: 5 Rute Penerbangan Citilink Pindah dari Bandara Husein ke Kertajati)

Kontroversi Pembangunan Bandara Kertajati

Visi tersebut tidak mudah diwujudkan. Bandara Kertajati yang memiliki nilai proyek hingga Rp 2,6 triliun diduga dibangun tanpa disertai kajian kelayakan potensi pasar dan aspek ekonomi. Selain itu, dalam prosesnya Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menyebut terdapat sepuluh desa yang dihilangkan ketika Bandara Kertajati dibangun.

Dugaan pembangunan Bandara Kertajati tanpa adanya kajian kelayakan dapat dilihat ketika Bandara Kertajati resmi dioperasikan pada Mei 2018. Aktivitas Bandara Kertajati sepi. Hal ini lantaran karena sulitnya akses menuju bandara, seperti akses lokasi Bandara Kertajati terbatas dan belum langsung terhubung tol selayaknya Bandara Soekarno-Hatta sehingga harus ditempuh melalui jalan biasa.

Selain itu, tidak adanya angkutan umum yang melayani rute dari dan menuju bandara juga menjadi halangan bagi masyarakat yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Hal ini mengakibatkan pengusaha angkutan umum mempertimbangkan kembali rencananya membuka layanan di Bandara Kertajati jika kondisinya masih sepi.

Bandara Kertajati
Bandara Kertajati (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Menanggapi hal tersebut, pemerintah menyiapkan akses transportasi publik sehingga masyarakat tidak kesulitan ketika menuju Bandara Kertajati. Bahkan, Bus DAMRI memberikan tarif gratis kepada 22 ribu penumpang pertama dengan hanya menunjukkan nomor tiket atau kode booking penerbangan selama satu bulan.

Selain Bus DAMRI, terdapat 10 perusahaan travel yang beroperasi untuk melayani masyarakat dari dan ke Bandara Kertajati. Secara lengkap operator transportasi yang melayani rute dari dan ke Kertajati adalah sebagai berikut:

Damri: rute Bandung - Kertajati, Cirebon - Kertajati, Cikarang-Kertajati, Kuningan - Kertajati
CTU Shuttle: Bandung - Kertajati, Tasikmalaya-Kertajati.
Lintas Shuttle: Bandung - Kertajati, Tasikmalaya - Kertajati
ECA Shuttle: Cirebon - Kertajati, Kuningan - Kertajati, Indramayu - Kertajati
Trans: Purwakarta - Kertajati
Baraya: Bandung - Kertajati
Mekarsari: Majalengka - Kertajati
Ames: Sumedang - Kertajati, Majalengka - Kertajati
Budiman: Tasikmalaya - Kertajati
Bhinneka Shuttle: Bandung - Kertajati, Cirebon - Kertajati
BJT: Cirebon - Kertajati

Sementara untuk moda transportasi online, terdapat Grab yang juga resmi mengoperasikan 20 unit armada di Bandara Kertajati. Pengoperasian ini bekerjasama dengan BIJB sebagai pemilik dan PT Angkasa Pura II sebagai pengelola bandara.

(Baca: 11 Perusahaan Bus dan Travel Siap Layani Rute Bandara Kertajati )

Tidak hanya itu sebagai solusi sepinya peminat di Bandara Kertajati, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengalihkan 13 rute penerbangan ke Bandara Kertajati dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, pengalihan penerbangan ke Bandara Kertajati berjalan dengan lancar sejak Minggu (30/6).

Ia berharap dengan adanya pengalihan ini, Bandara Kertajati semakin ramai. Alhasil, bandara tersebut bisa membawa dampak positif bagi pemerataan peningkatan perekonomian di Jawa Barat, khususnya di Kertajati, Majalengka, dan sekitarnya.

Pelimpahan Rute ke Bandara Kertajati, Bagaimana Nasib Bandara Husein?

Pelimpahan sejumlah penerbangan domestik ini juga menjadi angin segar bagi kinerja keuangan dari Bandara Kertajati. Tercatat dalam laporan berkala BIJB pada 2017, BIJB merugi pada periode tahun berjalan sebesar Rp 35,3 miliar. Angka ini meningkat dibandingkan periode sebelumnya, yaitu Rp 7,65 miliar di 2016 dan Rp 4,7 miliar di 2015.

Selain itu Direktur Keuangan dan Umum PT BIJB, Muhammad Singgih mengatakan biaya operasi Kertajati tidaklah sedikit. Biaya operasi Bandara Kertajati per bulan mencapai sekitar Rp 6-7 miliar.

Namun, kebijakan pemerintah untuk mengalihkan 13 rute penerbangan domestik dari Bandara Husein Sastranegara ke Bandara Kertajati membuat Bandara Husein sepi penumpang. Seperti dilansir Detikcom, Eksekutif General Manager Bandara Husein, Andika Nuryaman menyebut ada penurunan jumlah penumpang.

Penurunan penumpang ini juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi warga di sekitar bandara. Sebagai contoh, para pengemudi ojek dan pemilik warteg di sekitar Bandara Husein yang mengeluhkan pendapatannya berkurang pascapengalihan rute penerbangan domestik ke Bandara Kertajati.

Meskipun terdapat penurunan jumlah penumpang karena pengalihan ke Bandara Kertajati, hal ini tidak berdampak signifikan terhadap aktivitas bandara. Pengelola Bandara Husein akan berupaya menambah frekuensi penerbangan untuk menggantikan rute yang dipindahkan ke Bandara Kertajati.

“Ada penambahan rute ke Surabaya dan ke Yogyakarta, kami juga akan menambah rute internasional ke Bangkok. Nanti jumlahnya sama seperti yang pindah,” ujar Andika.

(Baca: AirAsia Pindah ke Bandara Kertajati pada 30 Juni, Lion Mulai 1 Juli)

Reporter: Dwi Hadya Jayani

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha