Analis: Turunnya Harga LNG Jadi Penyebab Merosotnya Harga Batu Bara

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Sorta Tobing

9/7/2019, 13.09 WIB

Korea dan Jepang saat ini lebih memilih memakai LNG daripada batu bara untuk bahan bakar pembangkit listriknya.

harga batu bara turun
Donang Wahyu|KATADATA
Pada akhir 2018, harga batu bara dengan kalori tinggi, Newcastle, berada di kisaran US$ 100 dolar per ton. Namun, setelah itu terjadi penurunan signifikan. Hingga awal bulan Juli ini harganya menjadi US$ 77 per ton.

Tahun ini batu bara Newcastle mengalami tren penurunan harga. Pada akhir 2018, harga batu bara dengan kalori tinggi itu berada di kisaran US$ 100 dolar per ton. Lalu, terjadi penurunan signifikan. Hingga awal bulan Juli ini harganya menjadi US$ 77 per ton.

Analis Trimegah Sekuritas Sandro Sirait menjelaskan penurunan harga batu bara Newcastle seiring dengan rendahnya permintaan dari negara dengan kebutuhan batu bara kalori tinggi seperti Korea dan Jepang. Kedua negara itu lebih memilih meningkatkan penggunaan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) sebagai energi pembangkit listrik mereka.

Harga LNG sejak awal tahun turun dari US$ 9 per Juta British Thermal Unit (mmbtu) menjadi US$ 4,5 mmbtu. Adapun besaran konsumsi batu bara untuk pembangkit di kedua negara tersebut sebesar 40%, sedangkan sisnya LNG sebesara 60%. "Permintaannya agak melemah, karena murahnya harga LNG," kata Sandro, kepada Katadata.co.id, Selasa (9/7).

Sedangkan, untuk permintaan batu bara dari Tiongkok cenderung stabil. Bahkan terjadi peningkatan 5% pada Mei 2019 dibanadingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Adapun untuk batu bara Newcastle diproyeksikan beberapa bulan kedepan harganya berada di kisaran US$ 88 per ton. " Kalau data impornya Tiongkok lima bulan terakhir masih strong. year on year lebih tinggi," kata dia.

(Baca: Harga Batu Bara Acuan US$ 71,92 per Ton, Terendah Sejak November 2016)

Harga batu bara Newscastle ini menjadi salah satu unsur pembentukan harga batu bara acuan (HBA) dalam negeri. HBA pada Juli 2019 ini pun ikut merosot seiring penurunan harga batu bara global, yaitu menjadi US$ 71,92 per ton, atau turun 13,2% dibandingkan pada bulan lalu yaitu US$ 81,48 per ton.

Berdasarkan catatan Katadata.co.id, HBA Juli 2019 ini merupakan yang terendah sejak November 2016. HBA sempat naik hingga menembus US$ 100 per ton pada 2018, namun kemudian berangsur turun.

Pada Januari 2019, HBA tercatat berada di level US$ 92,41, kemudian turun menjadi US$ 91,80 pada Februari, dan turun lagi menjadi US$ 90,57 pada Maret. HBA pada April kembali turun menjadi US$ 88,85 per ton. Namun, HBA naik tipis menjadi US$ 89,53 per ton pada Mei. Per Juni, HBA kembali merosot menjadi US$ 81,49 per ton, dan semakin merosot ke posisi US 71,92 per Juli.

(Baca: Forum Energi: Ketergantungan Batu Bara pada Pasar Ekspor Berbahaya)

Reporter: Fariha Sulmaihati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha