Dikabarkan Akan IPO Jumbo, Produsen Softex Temui Regulator Bursa

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Martha Ruth Thertina

11/7/2019, 15.39 WIB

Produsen pembalut tersebut dikabarkan mengincar dana segar hingga US$ 500 juta atau sekitar Rp 7 triliun.

Softex IPO
Instagram @womenhealthypedia
Softex

Manajemen PT Softex Indonesia telah menemui pimpinan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk membahas rencana masuk bursa. Kabarnya, produsen pembalut tersebut mengincar dana segar hingga US$ 500 juta atau sekitar Rp 7 triliun melalui penawaran umum perdana saham (IPO).

"Softex itu ketemu dengan salah satu direktur kami, Pak Laksono (Laksono Widodo, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI) untuk menyampaikan niatnya," kata Nyoman ketika ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (11/7).

(Baca: Sepekan Melantai di Bursa, Ada yang Cuan 600% dari 13 Emiten Baru)

Meski begitu, Laksono tidak mau berkomentar tentang hasil pertemuan dengan Softex. "No comment," kata dia. Yang jelas, Softex belum mengajukan dokumen apapun, baru sebatas menyampaikan minat masuk bursa.

Informasi soal IPO bernilai jumbo Softex sempat diberitakan beberapa media asing. Jika rencana tersebut terealisasi maka Softex akan masuk dalam jajaran emiten dengan nilai IPO terbesar sepanjang sejarah bursa saham domestik.

Adapun sepanjang tahun ini, banyak perusahaan melakukan IPO namun dengan nilai kecil. BEI mencatat ada 31 perusahaan yang melakukan IPO, dengan total perolehan dana sebesar Rp 9,09 triliun. PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk (LIFE) menjadi perusahaan dengan nilai IPO paling besar yakni Rp 4,7 triliun.

(Baca: Usai Terkoreksi 6% Karena Isu Pajak, Saham Adaro Kembali Menghijau)

Dalam IPO tersebut, LIFE tidak menerbitkan saham baru, namun pemiliknya yakni PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) melepas kepemilikannya, sehingga dana tersebut masuk kantong SMMA. Jika tanpa IPO LIFE, maka total dana IPO hanya Rp 4,33 triliun dari 30 perusahaan. Ini artinya, perolehan dana IPO tiap perusahaan sekitar Rp 144,5 miliar.

Adapun sejak 2015, perusahaan yang IPO dan meraup dana di atas Rp 2 triliun tidak terlalu banyak. Pada 2015, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) meraup Rp 4,45 triliun. Pada 2016, PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) IPO dengan perolehan Rp 5,6 triliun. Pada 2016 juga, PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR) meraup Rp 2,41 triliun. Terakhir, LIFE meraup dana Rp 4,7 triliun.

Menanggapi nilai IPO yang kecil itu, Nyoman mengatakan, pihaknya memang mendorong seluruh perusahaan untuk mampu melantai di pasar modal, baik perusahaan besar maupun kecil-menengah. "Silahkan saja, mulai dari (perusahaan) yang kecil dan menengah. Tapi yang (perusahaan) besar bursa tetap dan selalu kami encourage mereka," kata Nyoman.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN