Operasi Proyek Tangguh Train III Tertunda ke 2021 karena Bencana Alam

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Ratna Iskana

20/7/2019, 07.30 WIB

Gempa Palu dan bencana erupsi anak Gunung Krakatau menghambat pasokan material yang dibutuhkan untuk membangun Tangguh Train III.

proyek tangguh train III, skk migas
@kementerianesdm
Ilustrasi, proyek Tangguh di Papua. Sebelumnya proyek Tangguh Train III ditargetkan beroperasi pada kuartal III 2021.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyampaikan jadwal produksi proyek Tangguh Train III akan mundur dari target pada kuartal III 2020. SKK Migas memproyeksi proyek Tangguh Train III akan mulai beroperasi pada kuartal III 2021.

Deputi Operasi SKK Migas Fatar Yani Abdurrahman menjelaskan, ada sejumlah faktor yang membuat proyek tersebut mulai berproduksi pada kuartal III 2021. Salah satu faktornya adalah keterlambatan pengiriman material yang berasal dari Sulawesi dan Jawa.

"Kilang LNG yang tadinya onstream kuartal III 2020, dengan schedule yang baru, kemungkinan besar baru onstream kuartal III 2021," ujar fatar dalam Konferensi Pers di Gedung SKK Migas, Jumat (19/7).

Menurut Fatar, keterlambatan tersebut disebabkan oleh gempa dan tsunami yang mengguncang Palu beberapa waktu lalu. Ditambah dengan erupsi anak Gunung Krakatau yang membuat pasokan material terhambat.

"Saat gempa Palu itu supplai agregat batu batuan terhambat juga cukup lama. Kemudian karena kejadian erupsi anak Krakatau juga sebabkan keterlambatan pengiriman material ke Papua," ujarnya.

(Baca: Mulai 2020, 84 Kargo LNG Tangguh Diekspor ke Singapura)

Selain itu, faktor lain yang menyebabkan keterlambatan yaitu jumlah pekerja yang mengerjakan proyek tersebut yang berasal dari pulau Jawa semakin berkurang. Pasalnya, di saat pulang ke daerah asal mereka, para pekerja tidak kembali lagi ke Papua.  Padahal dibutuhkan kurang lebih 10 ribu pekerja untuk mempercepat pengerjaan Tangguh Train III.

"Ketika kerja di Papua, pada saat yang sama proyek infrastruktur di Indonesia juga banyak. Saat kembali ke Jawa, mereka cenderung lebih pilih kerja di proyek infrastruktur, jadi kontraktor harus rekrut ulang pegawai dengan kompensasi lebih baik mudah-mudahan tidak terulang," kata Fatar.

Train 3 merupakan bagian dari Proyek Tangguh. Proyek kawasan pengembangan migas ini memiliki enam lapangan gas di Blok Wiriagar Berau dan Muturi yang terletak di Teluk Bintuni, Papua Barat.

Proyek Tangguh sudah memiliki dua Train dengan kapasitas masing-masing 3,8 juta ton per tahun (MTPA). Dengan beroperasinya Train 3, total kapasitas proyek pengolahan gas ini akan mencapai 11,4 juta MTPA.

BP memegang 40,22% saham di proyek tersebut. Komposisi hak kelola BP meningkat dari semula 37,16% setelah Talisman keluar dari proyek tersebut. Pengelola lainnya adalah MI Berau B.V sebesar 16,30 persen, CNOOC Muturi Ltd 13,90%, Nippon Oil Exploration (Berau) Ltd 12,23%, KG Berau Petroleum Ltd sebesar 8,56%, KG Wiriagar Petroleum Ltd sebesar 1,44% dan Indonesia Natural Gas Resources Muturi Inc dengan hak kelola 7,35%.

(Baca: BP Temukan Cadangan Gas di Lepas Pantai Papua)

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan