Berkat Neraca Dagang Tiongkok, Rupiah dan Mata Uang Asia Menguat

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Happy Fajrian

8/8/2019, 13.55 WIB

Penguatan nilai tukar rupiah dan mata uang Asia lainnya dipicu rilis data neraca perdagangan Tiongkok yang positif.

Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap sejumlah mata uang asing.
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap sejumlah mata uang asing.

Nilai tukar rupiah bergerak menguat siang ini, Kamis (8/8). Mengutip Bloomberg, rupiah berada di level Rp 14.215 per dolar AS atau menguat 0,07% dibanding penutupan kemarin, Rabu (7/8) sore.

Tak hanya rupiah, saat berita ini ditulis seluruh mata uang Asia juga mencatatkan penguatan terhadap dolar AS. Yen Jepang menguat 0,08%, dolar Taiwan 0,47%, won Korea Selatan 0,39%, peso Filipina 0,12%, rupee India 0,05%, ringgit Malaysia 0,12% dan baht Thailand 0,27%.

Vice President Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menjelaskan penguatan rupiah beserta mata uang Asia lainnya merupakan sentimen positif dari rilis data neraca perdagangan Tiongkok periode Juli 2019.

"Rilis data Tiongkok bulan Juli memberikan hasil yang lebih bagus dari ekspektasi. Hal inilah yang memberikan sentimen positif ke pasar," ucap dia saat dihubungi Katadata.co.id, Kamis (8/8). Dia menambahkan, rilis data tersebut menunjukkan bahwa Tiongkok berhasil menghindari risiko perang dagang untuk sementara ini.

(Baca: Cadangan Devisa Naik, Rupiah Menguat ke 14.225 per Dolar AS)

Sementara itu, Analis PT Garuda Berjangka Ibrahim menjelaskan penguatan rupiah beserta mata uang Asia lainnya dikarenakan bank sentral Tiongkok yang menstabilkan mata uangnya. Tercatat, saat ini yuan Tiongkok mengalami penguatan 0,23% terhadap dolar AS.

"Penstabilan mata uang Tiongkok ini mengindikasikan akan ada pertemuan kembali pejabat AS dan Tiongkok untuk bernegoisasi di awal bulan ini," katanya saat dihubungi Katadata.co.id secara terpisah.

Maka dari itu, menurut Ibrahim perang mata uang yang tadinya sedang terjadi kini sedang tertahan. Selain itu, perang mata uang juga telah mengakibatkan banyak bank sentral di Asia menurunkan suku bunga acuannya.

Tak hanya di Asia, Ibrahim mengatakan bahwa bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) juga turut memberikan sinyal penurunan suku bunga sebesar 50 basis poin (bps) pada September ini. Hal ini mengacu pada keinginan Trump agar The Fed lebih agresif.

Sedangkan dari sisi internal, Bank Indonesia (BI) dinilai Ibrahim sedang melakukan intervensi. "Intervensi BI ini cukup luar biasa sehingga rupiah menguat," ujarnya. Intervensi tersebut yakni transaksi di pasar NDF yakni di pasar valuta asing dan pasar obligasi.

(Baca: Menko Darmin soal Perang Mata Uang: Kita Diamkan Saja Dulu)

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN