Cadangan Devisa Naik, Rupiah Menguat ke 14.225 per Dolar AS

Penulis: Agustiyanti

7/8/2019, 16.54 WIB

Penguatan rupiah sore ini antara lain ditopang data cadangan devisa Indonesia pada Juli 2019 yang meningkat US$2,1 miliar menjadi US$125,9 miliar.

rupiah, nilai tukar
ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARI
Nilai tukar rupiah pada perdagangan sore ini menguat ke posisi Rp14.225 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah pada perdagangan sore ini, Rabu (7/8) menguat 0,36% atau 51,5 poin ke posisi Rp14.225 per dolar AS. Penguatan rupiah antara lain ditopang data cadangan devisa Indonesia pada Juli 2019 yang meningkat US$2,1 miliar menjadi US$125,9 miliar.

Adapun pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah hari ini diperdagangkan di level Rp14.275 per dolar AS, melemah dari posisi kemarin Rp14.344 per dolar AS.

Selain rupiah, penguatan nilai tukar terdapat dolar AS juga dialami won Korea sebesar 0,05% dan ringgit Malaysia sebesar 0,04%.

(Baca: Pemerintah Tarik Utang, Cadangan Devisa Juli Naik US$ 2,1 Miliar )

Sementara mayoritas mata uang Asia justru melemah terhadap dolar AS. Yuan China masih melemah 0,36%, dolar Singapura 0,14%, dolar Hong Kong 0,05%, baht Thailand 0,31%, rupee India 0,01%, dan peso Filipina 0,55%.

Di sisi lain Euro dan Poundsterling juga melemah terhadap dolar AS masing-masing 0,13% dan 0,27%.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim menjelaskan sebenarnya sejumlah faktor eksternal yang mempengaruhi penguatan rupiah pada hari ini. Ia mencontohkan adanya harapan pelaku pasar bahwa tensi perang dagang antara AS dan Tiongkok akan menurun seiring kembali dilakukannya perundingan antara kedua negara.

(Baca: BI Waspadai Dampak Pelemahan Yuan ke Rupiah dan Ekonomi Indonesia)

Selain itu, keputusan sejumlah bank sentral India dan Thailand yang memangkas suku bunga acuannya juga menguntungkan nilai tukar rupiah.

Sentimen positif, menurut dia, juga berasal dari data cadangan devisa yang meningkat pada Juli. BI melaporkan cadangan devisa sebesar US$ 125,9 miliar, meningkat US$ 2,1 miliar dibandingkan Juni 2019 yang sebesar US$ 123,8 miliar.

"BI juga terus melakukan intervensi secara aktif di pasar valas dan obligasi negara melalui pasar DNDF (Domestic Non-Deliverable Forwards. Intervensi BI sejauh ini membuahkan hasil yang memuaskan bagi pelaku pasar," kata dia.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan