Harus Bayar Rp 3 Ribu, Hanya 1% yang Membeli Alat Makan Lewat GoFood

Penulis: Cindy Mutia Annur

Editor: Desy Setyowati

8/8/2019, 16.42 WIB

Hal ini dilakukan untuk mengurangi sampah plastik.

Gojek menyediakan fitur pilih alat makan.
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ilustrasi, helm Gojek logo baru di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat (29/7). Gojek menyediakan fitur pilih alat makan.

Gojek meluncurkan fitur pilihan alat makan sekali pakai di GoFood sejak bulan lalu. Hasilnya, hanya 1% dari total pengguna yang membeli perlengkapan makan.

Chief of Corporate Affairs Gojek Nila Marita mengatakan, konsumen harus mengeluarkan biaya tambahan Rp 1.000-Rp 3.000 per alat makan lewat fitur tersebut. Hal ini dilakukan agar konsumen mengurangi sampah plastik saat membeli makanan lewat GoFood.

Ia mencatat, 99% pengguna memilih untuk tidak membeli alat makan melalui GoFood. “Itu pilihan mereka (konsumen), sehingga kami menilai bahwa fitur ini memberikan respons yang sangat positif," katanya saat konferensi pers peluncuran GoGreener di Jakarta, Kamis (8/8).

Chief Food Officer Gojek Group Catherine Hindra Sutjahyo menambahkan, fitur pilihan alat makan itu merupakan salah satu dari dua program inisiasi GoFood dalam mengurangi sampah plastik. Saat ini, sekitar 1.000 mitra GoFood mengikuti program bernama GoGreener ini.

Selain fitur pilihan alat makan, Gojek menyediakan tas pengantaran bagi mitra pengemudi yang memberikan pelayanan GoFood. Dengan begitu, mitra tak perlu mengunakan plastik untuk mengantar makanan.

Hindra mengklaim, tas ini memiliki kualitas yang baik sehingga bisa menjaga mutu makanan, baik saat cuaca panas maupun dingin. Alat ini juga punya kompartemen yang luas. “Bukan hanya untuk mengurangi sampah plastik, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas pesanan konsumen GoFood,” katanya.

(Baca: Cara Gojek Meminimalkan Sampah Plastik Lewat Go-Food)

Gojek pun bekerja sama dengan Gerakan lndonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP), PlastikDetox, dan World Wildlife Fund (WWF-lndonesia) untuk memberikan edukasi kepada mitra GoFood, pengemudi hingga konsumen. Harapannya, kolaborasi ini bisa meminimalkan penggunaan sampah plastik lewat GoFood.

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan, timbunan sampah secara nasional mencapai 175 ribu ton per hari. Perhitungan itu mengacu pada asumsi setiap orang menyumbang 0,7 kilogram sampah per hari. Sebanyak 15% di antaranya adalah sampah plastik yang berasal dari kemasan makanan dan minuman, consumer goods, kantong belanja, wadah serta pembungkus barang lainnya.

Direktur Pengelolaan Sampah KLHK Novrizal Tahar mengatakan, pemerintah mengeluarkan kebijakan pengelolaan sampah secara nasional. Melalui regulasi itu, kementeriannya menargetkan bisa mengurangi sampah hingga 30% dan penanganannya 70% pada 2025.

"Pemerintah terus menyempurnakan kebijakan yang berwawasan lingkungan. Masyarakat pun harus ikut bergerak, apalagi saat ini sudah semakin mudah dengan inisiatif sadar lingkungan yang difasilitasi oleh teknologi Gojek, salah satunya lewat GoFood," kata Novrizal.

Adapun kerja sama dengan Gojek dan organisasi lainnya akan dilakukan di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), Bandung, Surabaya, dan Denpasar. Inisiasi tersebut akan diterapkan hingga  akhir tahun ini.

(Baca: Menengok Pengelolaan Sampah di Jakarta dan Surabaya)

Reporter: Cindy Mutia Annur

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN