BEI: Belum ada Perusahaan Jumbo yang akan IPO

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Happy Fajrian

12/8/2019, 14.02 WIB

Sejauh ini sudah ada 32 perusahaan yang resmi go public di pasar modal. Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG menjadi perusahaan dengan nilai IPO terbesar.

Suasana Bursa Efek Indonesia (BEI). BEI telah mengantongi nama 16 perusahaan yang akan segera melantai di pasar modal dalam waktu dekat. Dari 16 perusahaan tersebut, tidak ada perusahaan besar.
ANTARA FOTO/Citro Atmoko
Suasana Bursa Efek Indonesia (BEI). BEI telah mengantongi nama 16 perusahaan yang akan segera melantai di pasar modal dalam waktu dekat. Dari 16 perusahaan tersebut, tidak ada perusahaan besar.

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan bahwa belum ada perusahaan-perusahaan berkapasitas jumbo yang akan melantai di pasar modal melalui skema penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) dalam waktu dekat.

"Perusahaan yang besar, belum menyampaikan ke kami. Belum menyampaikan dokumennya ke kami," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna ketika ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Senin (12/8).

Memang, sejauh ini BEI sudah mengantongi 16 perusahaan yang berencana untuk melakukan IPO pada tahun ini dalam daftar antrian atau pipeline-nya. Namun, dalam pipeline IPO tersebut, tidak tercantum nilai fund raising dari perusahaan-perusahaan tersebut.

Dalam catatan bursa, sejauh ini sudah ada 32 perusahaan yang melakukan IPO di pasar saham. Dari keseluruhan perusahaan tersebut, PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG Tbk (LIFE) yang IPO pada 9 Juli 2019 menjadi perusahaan yang meraup dana paling besar saat IPO senilai Rp 4,76 triliun.

(Baca: Bursa Kantongi 15 Perusahaan yang Akan IPO, Net TV Keluar dari Daftar)

Meski begitu, LIFE tidak mengantongi dana dari IPO tersebut karena ada investor yang melepas saham LIFE ke publik. Sehingga LIFE tidak melepas saham baru ke publik sama sekali.

Di luar saham LIFE, ada PT MNC Vision Networks Tbk (IPTV) yang IPO pada 8 Juli 2019 di mana perusahaan anak dari PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) ini meraup dana dari IPO senilai Rp 845,28 miliar.  Diikuti oleh PT Pollux Investasi Internasional Tbk (POLI) yang IPO pada 10 Januari dengan dana raupan Rp 657,44 miliar.

Nyoman optimistis tahun ini tetap bisa menyamai capaian perusahaan yang melakukan IPO di pasar saham seperti di tahun lalu. Seperti diketahui, pada 2018, ada 57 perusahaan yang melakukan IPO. Hal tersebut karena saat ini sudah ada 33 perusahaan yang di pipeline perusahaan penjamin efek (underwritter) yang bakal masuk ke pasar modal.

"Target kami, jangan lebih rendah dari pada periode sebelumnya. Mudah-mudahan lebih dari 57 perusahaan bisa kami capai," ujar Nyoman.

(Baca: BEI Luncurkan Dua Indeks Baru, Sektor Finansial Memimpin Bobot Saham)

Nyoman menyampaikan, pihaknya tidak menetapkan nilai rising fund sebagai target pencapaian dari BEI. Pihak Bursa hanya menargetkan jumlah perusahaan yang IPO saja. "Dari kami tidak menetapkan raising fund-nya, tapi kami menetapkan jumlah IPO-nya," kata Nyoman.

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN