Terseret Perang Dagang, Harga Minyak Turun Jadi US$ 54 per Barel

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Ameidyo Daud

12/8/2019, 09.55 WIB

Sinyal pelambatan ekonomi dan peningkatan perang perdagangan AS-Tiongkok menyebabkan permintaan minyak global melambat sejak krisis 2008.

Harga Minyak, Perang Dagang
KATADATA
Harga minyak hari Senin (12/8) terseret perang dagang AS-Tiongkok hingga lambatnya ekonomi dunia.

Harga minyak jatuh pada perdagangan Senin (12/8) pagi lantaran terseret oleh kekhawatiran akan perang dagang Amerika Serikat-Tiongkok dan melambatnya ekonomi dunia. Hal ini menyebabkan penurunan prospek pertumbuhan permintaan minyak.

Perselisihan perdagangan AS-Tiongkok telah mengguncang pasar ekuitas global pekan lalu. Sementara penambahan stok minyak mentah AS memperbesar tekanan ke bawah pada harga yang telah terpangkas sekitar 20% dari puncak 2019 pada April lalu.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berada di level US$ 58,25 per barel, turun 28 sen atau 0,5%, dari perdagangan sebelumnya. Sedangkan, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 54,28 per barel atau turun 0,4% dari penutupan terakhir perdagangan.

Secara keseluruhan, kedua tolok ukur harga minyak jatuh pekan lalu, dengan Brent kehilangan lebih dari 5% dan WTI turun sekitar 2%. "Harga minyak jatuh pada awal pekan perdagangan karena perkiraan permintaan yang lebih rendah yang diterbitkan minggu lalu dan pesimisme tentang kesepakatan perdagangan AS-Tiongkok," kata Alfonso Esparza, analis pasar senior di OANDA, Toronto dikutip dari Reuters, Senin (12/8).

(Baca: Perang Dagang Sebabkan Harga Minyak Merosot Hampir 5%)

International Energy Agency (IEA) mengatakan, tanda-tanda pelambatan ekonomi dan peningkatan perang perdagangan AS-Tiongkok telah menyebabkan permintaan minyak global tumbuh pada laju paling lambat sejak krisis keuangan 2008. Badan yang berbasis di Paris itu juga telah memangkas prediksi pertumbuhan permintaan minyak global 2019 dan 2020 masing-masing menjadi 1,1 juta dan 1,3 juta barel per hari (bph).

Di tempat lain, dua sumber industri yang mengetahui data kementerian energi Rusia mengatakan produksi minyak Rusia naik menjadi 11,32 juta barel per hari pada 1-8 Agustus. Ini berarti produksi minyak bulan ini telah naik dari rata-rata 11,15 juta barel per hari pada Juli 2019. Pada bulan Juli, organisasi negara pengekspor minyak (OPEC) termasuk Rusia sepakat untuk memperpanjang pengurangan pasokan hingga Maret 2020 untuk menopang harga minyak.

(Baca: OPEC Perpanjang Pemangkasan Produksi, Harga Minyak Terkerek )

Sinyal produksi minyak AS saat ini juga menandakan penurunan produksi. Ini terlihat dari hasil mingguan dari rig minyak AS, hingga indikator awal produksi di masa depan. Penurunan untuk minggu keenam berturut-turut terjadi karena produsen memangkas pengeluaran untuk pengeboran dan penyelesaian proyek baru.

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN