Pasar Tunggu Kebijakan BI dan The Fed, Rupiah Dibuka Menguat Tipis

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Happy Fajrian

21/8/2019, 09.22 WIB

Rupiah menguat tipis pada saat pembukaan namun langsung berbalik melemah tidak lama setelah pasar dibuka.

nilai tukar rupiah, dolar as
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi mata uang rupiah dan dolar AS. Nilai tukar rupiah pagi ini dibuka menguat tipis 0,03% menjadi Rp 14.262 per dolar AS. Namun penguatan tersebut tidak bertahan lama, kini rupiah berbalik melemah 0,14% menjadi Rp 14.247,5 per dolar AS.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat tipis pagi ini, Rabu (21/8), sebesar 0,03% ke level Rp 14.262,8 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan Selasa (20/8) di level Rp 14.267,5 per dolar AS.

Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama lantaran beberapa saat setelah perdagangan dimulai, rupiah langsung terdepresiasi. Mengutip dari Bloomberg, saat berita ini ditulis, rupiah terdepresiasi sebesar 0,14% ke level Rp 14.247,5 per dolar AS.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Pieter Abdullah Redjalam memperkirakan pergerakan rupiah hari ini masih akan berada dalam tekanan. "Pelaku pasar masih menunggu keputusan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang akan dilaksanakan esok hari (Kamis (22/8). Saya perkirakan rupiah masih akan dalam tekanan melemah," katanya saat dihubungi Katadata.co.id, Rabu (21/8).

Terkait RDG BI, dia memperkirakan bahwa besar kemungkinan BI akan menahan suku bunga acuannya. Hal ini untuk mengantisipasi ketidakpastian global dan tekanan pelemahan rupiah saat ini. 

(Baca: Rupiah Melemah ke 14.267 per Dolar AS Tertekan Sentimen Global)

Selain menanti kebijakan bunga acuan BI, Pieter menyebutkan, pelaku pasar juga menunggu sinyal arah kebijakan bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed). "Arah kebijakan the Fed ini akan berpengaruh terhadap aliran modal global dan juga menjadi rujukan kebijakan BI," ucap dia.

Ia pun mejelaskan, jika The Fed memberi sinyal akan menurunkan suku bunga, maka BI tentunya akan lebih berani menurunkan suku bunga. Sehingga, aliran modal global akan bergerak ke negara berkembang dan ada ruang untuk penguatan rupiah atau sebaliknya. 

"Menunggu kepastian arah kebijakan moneter BI, pelaku pasar memilih menepi. Apalagi fokus investor saat ini juga mengarah ke AS," ujar Pieter.

Sebagai informasi, pekan ini, The Fed mengadakan simposium tahunan di Jackson Hole. Pertemuan ini sangat dinanti oleh pelaku pasar yang sedang mencari petunjuk lebih jelas mengenai arah kebijakanThe Fed. Khususnya pasca pernyataan The Fed bulan lalu yang mengecewakan pasar.

(Baca: Rupiah Menguat ke 14.235 per Dolar AS Meski Perang Dagang Memanas)

Pasar berharap Ketua The Fed Jerome Powell menyebut sesuatu di Jackson Hole yang bisa menjadi petunjuk baru terkait posisi kebijakan The Fed. Di tengah penantian-penantian tersebut, Pieter memperkirakan rupiah akan kekurangan daya dorong untuk masuk ke zona penguatan hari ini.

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan