Harga Minyak Terkerek Dipicu Komitmen Pemangkasan Produksi Minyak OPEC

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Ekarina

9/9/2019, 09.33 WIB

OPEC dan sekutunya berkomitmen menyeimbangkan pasar minyak mentah.

Kilang minyak
Katadata

Harga minyak dunia, Senin (9/9) bergerak naik seiring kebijakan baru organisasi pengekspor minyak (OPEC). Kenaikan harga minyak hari ini merupakaan yang keempat kali, melanjutkan penguatan hari sebelumnya.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka brent naik 7 sen menjadi US$ 61,61 per barel. Sedangkan harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS 20 sen atau 0,3% menjadi US$ 57,72 per barel.

Naiknya harga minyak juga didukung oleh komentar menteri energi Uni Emirat Arab, Pangeran Abdulaziz bin Salman yang  mengatakan OPEC dan sekutunya berkomitmen menyeimbangkan pasar minyak mentah.

“Tidak ada perubahan dalam minyak Saudi dan kebijakan OPEC. Pangeran Abdulaziz akan berupaya memperkuat kerja sama antara OPEC dan non-OPEC, ”kata seorang pejabat Saudi seperti yang dikutip dari Reuters. 

(Baca: Harga Minyak Indonesia Anjlok ke Level US$ 57,27/Barel pada Agustus)

Seperti diketahui, Raja Arab Saudi menunjuk putranya Pangeran Abdulaziz bin Salman sebagai menteri energi, menggantikan Khalid al-Falih. Langkah ini merupakan pertama kalinya portofolio jabatan menteri diserahkan kepada anggota keluarga kerajaan.

Pangeran Abdulaziz telah lama menjadi anggota delegasi Saudi OPEC.  Dia membantu menegosiasikan perjanjian antara OPEC dengan negara non-OPEC termasuk Rusia (sebagai salah satu anggota OPEC +) untuk memotong pasokan minyak mentah global untuk mendukung harga dan menyeimbangkan pasar.

Menteri Energi dan Industri UEA Suhail al-Mazrouei mengatakan bahwa anggota OPEC dan produsen non-OPEC "berkomitmen" untuk mencapai keseimbangan pasar minyak.

(Baca: Stok Minyak Mentah AS Turun, Harga Minyak Dunia Naik Tipis)

Saat ditanya mengenai kemungkinan pengurangan produksi yang lebih dalam, menteri itu mengatakan pada konferensi pers di Abu Dhabi, pihaknya tak khawatir dengan harga minyak, melainkan tingkat persediaan minyak saat ini.

Ketegangan perdagangan dan geopolitik lebih mempengaruhi pasar serta permintaan dan penawaran. Namun, ia bakal mengesampingkan langkah kebijakan yang terburu-buru terkait harga minyak akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

"Ketakutan akan permintaan yang lebih lambat (minyak) hanya akan terjadi jika ketegangan itu meningkat dan saya pribadi berharap itu tidak terjadi," kata Mazrouei.

 

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan