Harga Minyak Indonesia Anjlok ke Level US$ 57,27/Barel pada Agustus

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Desy Setyowati

6/9/2019, 08.47 WIB

Ada beberapa faktor yang menyebabkan harga minyak turun.

Rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada Agustus turun US$ 4,05 per barel menjadi US$ 57,27 per barel
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ilustrasi, seorang petugas bekerja di area Refinery Unit V Pertamina Balikpapan Kalimantan Timur (22/7). Rata-rata harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada Agustus turun US$ 4,05 per barel menjadi US$ 57,27 per barel.

Tim Harga Minyak Indonesia Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan, rata-rata harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) pada Agustus turun US$ 4,05 per barel menjadi US$ 57,27 per barel. Padahal, Juli lalu harganya mencapai US$ 61,32 per barel.

Harga Sumatran Light Crude (SLC) juga turun US$ 4,01 per barel, dari US$ 61,98 menjadi US$ 57,97 per barel pada Agustus 2019.

Penurunan harga minyak mentah utama di pasar internasional ini disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya kekhawatiran pasar atas perlambatan perekonomian dunia dan perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

"Penyebab lainnya, berdasarkan publikasi OPEC MOMR Agustus, terdapat penurunan estimasi pertumbuhan ekonomi dunia 2019 sebesar 0,1% menjadi 3,1%," kata Tim Harga Minyak Mentah Indonesia dikutip dari laman resmi migas.esdm.go.id, Jumat, (6/9).

(Baca: Data Ekonomi Tiongkok Bagus, Harga Minyak Terkerek Hingga 4%)

Selain itu, harga minyak internasional turun karena stok minyak mentah komersial negara-negara OECD naik 31,8 juta barel pada Juni 2019. Jumlah ini lebih tinggi 66,9 juta barel dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir. Data itu berdasarkan publikasi IEA Agustus 2019.

Terakhir, jumlah oil rig count dunia pada Juli 2019 naik 15 rig menjadi 1.855 rig. Faktor-faktor ini yang membuat penurunan harga minyak terus berlanjut.

Khusus untuk Kawasan Asia Pasifik, harga minyak mentah anjlok karena beberapa hal. Di antaranya impor minyak mentah Jepang turun 265 ribu barel per hari (eq. 9%) menjadi 2,8 juta barel per hari. Impor India juga menurun 340 ribu barel per hari (eq. 8%), menjadi 4,1 juta barel per hari.

(Baca: Harga Minyak Rendah, Jonan Minta Kontraktor Migas Efisiensi Biaya)

Selain itu, pasar memperkirakan ekonomi India melambat. Hal itu terlihat dari penurunan suku bunga oleh Bank of India sebesar 0,35 poin pada Agustus 2019.

Secara rinci, Dated Brent turun US$ 5,04 per barel, dari US$ 64,04 per barel menjadi US$ 59,00 per barel. Lalu, WTI (Nymex) turun US$ 2,71 per barel, dari US$ 57,55 per barel menjadi US$ 54,84 per barel.

Begitu juga dengan Basket OPEC turun US$ 5,11 per barel, dari US$ 64,71 per barel menjadi US$ 59,60 per barel. Kemudian, Brent (ICE) turun US$ 4,71 per barel, dari US$ 64,21 per barel menjadi US$ 59,50 per barel.

(Baca: Harga Minyak Turun Seiring Kekhawatiran Melemahnya Ekonomi Global)

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan