Kebijakan Trump Bikin Rupiah Menguat di Bawah 14 Ribu per Dolar AS

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Agustiyanti

12/9/2019, 17.01 WIB

Rupiah pada perdagangan sore ini, Kamis (12/9) menguat 0,47% atau 66 poin ke level Rp 13.994 per dolar AS.

Seorang petugas bank menghitung mata uang dolar Amerika Serikat (AS).
ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARI
Seorang petugas bank menghitung mata uang dolar Amerika Serikat (AS).

Nilai tukar rupiah pada perdagangan sore ini, Kamis (12/9) berhasil menguat melewati batas psikologis di bawah Rp 14 ribu per dolar AS. Penguatan tersebut didorong oleh keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) untuk menunda kenaikan tarif impor pada produk-produk Tiongkok selama dua pekan.

Mengutip Bloomberg, rupiah melaju 0,47% ke level Rp 13.994 per dolar AS. Sementara kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp 14.052 per dolar AS, menguat dari posisi kemarin Rp 14.063 per dolar AS. 

Mayoritas mata uang Asia juga tercatat menguat terhadap dolar AS, hanya yen Jepang yang berakhir melemah 0,03%. Yuan Tiongkok menguat 0,38%, ringgit malaysia menguat 0,34%, baht Thailand 0,31%, peso Filipina 0,43%, dolar Singapura 0,3%, dolar Hong Kong 0,13%, won Korea 0,35%, dan rupee India 0,49%. 

Analis PT Garuda Berjangka Ibrahim menilai, rupiah berhasil menguat hingga melewati ambang batas Rp 14 ribu per dolar AS lantaran Presiden AS Donald Trump  menunda kenaikan tarif untuk barang Tiongkok.

"Ini sebagai isyarat niat baik setelah Tiongkok mengecualikan sejumlah barang AS dari tarifnya sendiri," kata Ibrahim kepada Katadata.co.id, Kamis (12/9).

(Baca: Dukung RI Masuk Lima Negara Ekonomi Terbesar, Ini Strategi Sri Mulyani)

Trump memutuskan untuk menunda kenaikan tarif impor pada produk Tiongkok senilai US$ 250 miliar yang seharusnya berlaku pada 1 Oktober menjadi 15 Oktober 2019. Penundaan dilakukan tak lama setelah Tiongkok membebaskan 16 produk AS dari kenaikan tarif. 

Ibrahim menilai langkah ini meredakan ketegangan antara kedua belah pihak. Apalagi, kedua negara pada bulan Oktober juga akan kembali melakukan negosiasi di Washington DC, AS.

Seiring positifnya sentimen perang dagang, menurut dia, perhatian pasar kini beralih kepada bank sentral Eropa European Central Bank (ECB). Perhatian beralih karena ECB akan pada hari ini akan mengumumkan arah kebijakan moneter mereka.

Secara umum menurut dia, investor mengharapkan penurunan suku bunga pada pertemuan ECB hari ini. Penurunan ini diharapkan karena pembuat kebijakan mencoba menopang perekonomian daerah yang lesu.

(Baca: Tiongkok Bebaskan Kenaikan Bea Masuk 16 Produk AS, Trump Tunda Tarif)

Selain itu, sentimen pasar juga mengarah kepada pertemuan ECB dengan bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) serta bank sentral Jepang Bank Of Japan (BOJ) pada minggu depan. 

Sentimen, menurut dia, juga datang dari dalam negeri berupa langkah Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang tengah menyusun rencana pengembangan 10 kota metropolitan baru. Pengembangan tersebut guna mendukung pertumbuhan 5,7% sebagai target jangka panjang. 

Ia pun memperkirakan pada tansaksi besok,  rupiah masih akan menguat. Namun, pergerakan rupiah diperkirakan terbatas pada kisaranRp 13.980 - 14.060 per dolar AS.

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN