Saham Sampoerna dan Gudang Garam Laris Dibeli Investor Asing

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Febrina Ratna Iskana

18/9/2019, 13.01 WIB

Saham kedua perusahaan tersebut sempat turun pada Senin (16/9) karena pengumuman kenaikan cukai rokok sebesar 23%.

Bursa, HMSP, GGRM
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Pegawai mengamati layar pergerakan saham di Mandiri Sekuritas, Jakarta, Senin (22/7/2019). Hingga penutupan perdagangan sesi pertama Rabu (18/9), saham PT H.M. Sampoerna Tbk (HSMP) dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) laris diberi investor asing.

Saham produsen rokok masih jadi perhatian investor usai pemerintah menetapkan kenaikan cukai rokok sebesar 23% mulai tahun depan. Setelah sempat terkoreksi, saham PT H.M. Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) diburu investor asing pada perdagangan pada Rabu (18/7).

Hingga penutupan sesi pertama perdagangan hari ini, saham HSMP tercatat dibeli investor asing dengan nilai beli bersih Rp 24,44 miliar. Sehingga, sahamnya naik 3% dibanding penutupan kemarin menjadi Rp 2.400 per saham. Volume perdagangan saham HMSP sejauh ini sebanyak 83,86 juta saham dengan nilai Rp 202,24 miliar dan frekuensi 9.035 kali.

Saham Gudang Garam pada hari ini juga dibeli asing, nilai beli bersihnya mencapai Rp 10,93 miliar. Sepanjang sesi pertama, saham Gudang Garam ikut terdongkrak 1,78% menjadi Rp 55.600 per saham. Saham ini ditransaksikan dengan volume sebanyak 2,5 juta saham dengan nilai Rp 139,38 miliar dan frekuensi 5.373 kali.

(Baca: Sri Mulyani Optimistis Kenaikan Cukai Rokok Tak Ganggu Target Inflasi)

Pada perdagangan Senin (16/9), saham Sampoerna tercatat ditutup terkoreksi hingga 18,21% hingga ke level harga Rp 2.290 per saham. Saham Gudang Garam pada hari tersebut tercatat terkoreksi hingga 20,64% menjadi Rp 54.600 per saham.

Terkoreksinya saham-saham produsen rokok tersebut terjadi karena pemerintah mengumumkan bakal menaikkan cukai hasil tembakau menjadi rata-rata 23% dan harga jual eceran sebesar 35% mulai 1 Januari 2020 pada Jumat (13/9) sore. Detail kenaikan cukai dan harga eceran tersebut bakal diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK).

Analis Mirae Asset Sekuritas Christine Natasya mengatakan kenaikan tersebut akan memberikan kejutan negatif bagi pasar. “Karena cukai rokok per batang tidak pernah naik di atas 20% dalam 10 tahun terakhir,” ujar Christine dalam risetnya Jumat (13/9).

Kenaikan cukai rokok pun sudah diantisipasi oleh beberapa perusahaan rokok. Gudang Garam menyatakan akan mengkaji kenaikan harga produknya jika pemerintah menaikkan tarif cukai.

Direktur Gudang Garam Heru Budiman mengatakan kenaikan tersebut juga akan disesuaikan dengan daya beli masyarakat, terutama masyarakat di level bawah. “Pass on (kepada harga jual). Tentunya dilakukan secara bertahap,” ujarnya medio Agustus 2019 lalu.

(Baca: Sri Mulyani Optimistis Kenaikan Cukai Rokok Tak Ganggu Target Inflasi)

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan