Tak Ada Jabat Tangan Megawati untuk Surya Paloh

Penulis: Sorta Tobing

2/10/2019, 14.50 WIB

Megawati tertangkap kamera memalingkan muka saat Surya Paloh mengajaknya bersalaman. Keretakan hubungan yang sudah terjadi sejak Juli lalu.

megawati surya paloh, megawati tidak mau salam surya paloh, mega paloh
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ketua Umum Partai PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memasuki ruang pelantikan anggota DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Selasa (1/10/2019). Pada acara itu Megawati tertangkap kamera enggan menyalami Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh.

Berkebaya merah, berselendang putih, dan bersanggul, Megawati Soekarnoputri tampak anggun berjalan di area VIP, Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (1/10). Para tamu yang sudah hadir langsung berdiri menyambut Ketua Umum PDI Perjuangan itu untuk memberi salam.

Megawati tersenyum ramah menyalami para petinggi partai politik yang hadir. Namun, ia tak merespon ketika Komandan Satuan Tugas Bersama Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono menjulurkan tangan. Megawati malah menyambut tangan Pelaksana Tugas DPD Golkar Jakarta Rizal Mallarangeng.

Presiden ke-5 RI itu lalu memalingkan mukanya ketika giliran bersalaman dengan Ketua Umum Partai Nasional Demokrat Surya Paloh. Seperti terlihat dalam potongan video KompasTV yang ramai beredar di media sosial, Surya Paloh yang tadinya berdiri akhirnya memilih duduk.

Senyum Megawati mengembang kembali ketika bersalaman dengan KH Ma’ruf Amin, Wakil Presiden terpilih 2019-2024. Kemudian, Pelaksana Tugas Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa yang berjalan dari arah belakang langsung disambut senyuman dan jabat tangan Megawati.

Sinyal panas-dingin hubungan Megawati dengan Surya Paloh sudah terjadi pada Juli lalu. Meskipun kedua pihak sudah membantahnya, tapi kejadian kemarin menunjukkan hal berbeda.

(Baca: Hadirnya Prabowo Subianto di Kongres PDIP Sinyal Gabung Koalisi Jokowi)

Politik Nasi Goreng ala Mega

Keretakan keduanya mulai terlihat pada 24 Juli lalu. Megawati ketika itu menerima kehadiran Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di kediamannya, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat. Momen ini menjadi penting setelah kedua kubu sebelumnya bersaing dalam Pilpres 2019.

Megawati menyajikan nasi goreng Jawa yang ia masak sendiri. Prabowo pun memuji hasil racikan perempuan yang akrab dipanggil Mbak Mega itu. “Luar biasa nasi gorengnya, saya sampai menambah. Padahal beliau sudah ingatkan untuk diet,” kata Prabowo.

Sembari berkelakar, Megawati meyakini nasi gorengnya mampu meluluhkan hati laki-laki. “Itu namanya politik nasi goreng yang ampuh,” ucapnya.

Hangatnya suasana politik bukan hanya terjadi di Teuku Umar. Sekitar 1,5 kilometer dari rumah itu, Surya Paloh juga mengundang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ke kantor Nasdem di Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat.

Awalnya, Paloh dan Anies membahas mengenai perkembangan ibu kota. Namun, pembicaraan pun berkembang ke soal Pilpres 2024. Paloh menyatakan Anies berpotensi sebagai calon presiden. “Niatnya sudah pasti ada, dan semua niat baik harus terjaga,” kata Paloh.

(Baca: Perang Urat Syaraf Buntut Lobi Mega - Prabowo dan Manuver Surya Paloh)

Sehari sebelumnya, Paloh juga menggelar pertemuan dengan elite partai politik koalisi Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin. Mereka adalah Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar, Keuta Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, dan Suharso Monoarfa. Megawati yang tergabung dalam koalisi itu tak tampak hadir.

Salah satu topik yang dibahas dalam pertemuan itu mengenai potensi bergabungnya Gerindra dalam kubu Jokowi. Dalam pertemuan itu Sekjen Nasdem, Johny G Plate menyebutkan partai koalisi Jokowi-Ma'ruf itu sudah terlalu banyak dan sepakat untuk tidak menambah barisan partai koalisi yang baru.

Nasdem tak setuju Gerindra masuk dalam koalisi. Esok harinya, Paloh lalu bermanuver bertemu dengan Anies. Tampaknya hal itu yang membuat hubungan Megawati dan Paloh merenggang sampai sekarang.

Sebagai informasi, pada pemilu legislatif 2019, sebanyak sembilan partai politik lolos masuk ke Senayan. PDI Perjuangan meraih suara terbanyak. Di bawahnya adalah Golkar, Gerindra, dan Nasdem, seperti terlihat pada grafik Databoks berikut ini.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan