Pasokan dari AS Berlebih, Harga Minyak Mentah Merosot 2%

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Ekarina

3/10/2019, 08.53 WIB

Persediaan minyak mentah AS naik 3,1 juta barel pekan lalu, jauh di atas ekspektasi analis dengan perkiraan kenaikan 1,6 juta barel.

Harga minyak mentah berjangka jenis Brent ditutup turun US$ 1,20, atau 2%di level US$ 57,69 per barel.
Katadata
Harga minyak mentah berjangka jenis Brent ditutup turun US$ 1,20, atau 2%di level US$ 57,69 per barel.

Harga minyak dunia tergelincir lebih dari 2% pada perdagangan Rabu (2/10) atau Kamis waktu Indonesia. Penurunan dipicu oleh melimpahnya pasokan minyak mentah Amerika Serikat (AS) disertai buruknya data manufaktur AS. 

Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka jenis Brent ditutup turun US$ 1,20 atau 2% di level US$ 57,69 per barel. Sedangkan harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) turun US$ 98 sen, atau 1,8%, menjadi US$ 52,64 per barel.

Administrasi Informasi Energi melaporkan persediaan minyak mentah AS naik 3,1 juta barel pekan lalu, jauh di atas ekspektasi analis dengan perkiraan kenaikan 1,6 juta barel. Sementara stok minyak mentah di pusat pengiriman Cushing, Oklahoma, untuk WTI turun 201.000 barel.

(Baca: Harga Minyak Kembali Anjlok, Dipicu Memburuknya Data Ekonomi AS )

Pada perdagangan Selasa (1/10), harga minyak berjangka WTI bulan depan turun untuk sesi keenam berturut-turut, sekaligus menjadi penurunan terpanjang  tahun ini. Harga minyak WTI tertekan seiring data aktivitas manufaktur AS turun ke level terendah 10 tahun.

“Bahkan dalam 12 hari perdagangan minyak berjangka WTI tergelincir hingga pasar mulai menyentuh titik jenuh jual (oversold). Adapun US$ 50,50 masih merupakan level pendukung utama, ”kata David Thompson, Wakil Presiden eksekutif di Powerhouse, pialang komoditas khusus energi di Washington.

Pasar menyebut meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga ikut berperan menekan harga. Ketegangan mencuat setelah Arab Saudi menyalahkan Iran atas serangan terhadap fasilitas minyak Saudi pada 14 September, tuduhan tersebut pun dibantah Iran.

(Baca: Harga Minyak Jatuh Dipicu Perang Dagang yang Kembali Memanas)

 

 

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan