Strategi Gojek Fokus Garap Pesan-Antar Makanan dan Keuangan

Penulis: Desy Setyowati

3/10/2019, 18.44 WIB

Kontribusi GoRide dan GoCar kurang dari 30% terhadap total transaksi bruto Gojek.

Gojek mulai berfokus menggarap pasar pesan-antar makanan dan keuangan.
Gojek
Gojek meluncurkan logo baru pada hari ini (22/7/2019). Gojek mulai berfokus menggarap pasar pesan-antar makanan dan keuangan.

Presiden Gojek Grup Andre Soelistyo mengatakan perusahaannya mulai berfokus pada layanan pesan-antar makanan (GoFood) dan pembayaran (GoPay). Sebab, pasar kedua layanan ini cukup besar.

Andre menyampaikan, ukuran pasar pesan-antar makanan hampir dua kali berbagi tumpangan (ride-hailing). Meski begitu, layanan pembayaran merupakan lini bisnis terbesar bagi Gojek.

Selain itu, Andre menilai potensi untuk monetisasi dari bisnis pesan-antar makanan cukup besar. “Itulah sebabnya pesan-antar makanan menjadi fokus utama kami. Dan saya pikir, kami sudah memecahkan model (bisnisnya) tetapi kami ingin lebih dalam membangun fitur atas produk yang lebih besar,” katanya dalam acara Asia PE-VC Summit 2019 dikutip dari DealStreetAsia, kemarin (2/10).

(Baca: Gojek Cari Modal Rp 28,4 Triliun untuk Perkuat GoFood dan GoPay)

Berdasarkan kajian internal Gojek, margin laba kotor pedagang bisa mencapai 50%. Ketimbang menyewa kios di mal yang biayanya tinggi, menurutnya para penjual membutuhkan layanan seperti GoFood ataupun cloud kitchen.

Layanan seperti ini mengurangi biaya operasional secara signifikan. Karena itu, Gojek melihat ada peluang dari sisi pertumbuhan bisnis pedagang di industri kuliner.

Andre mengatakan, perusahaannya membangun bisnis pesan-antar makanan dengan mengandalkan layanan berbagi tumpangan untuk menciptakan efisiensi. Selain itu, Gojek mengembangkan layanan pembayaran, solusi bisnis, dan logistik.

Lalu, pasar keuangan juga dinilai potensial. Andre menilai, ada banyak penduduk dewasa di Asia Tenggara yang belum mendapat akses ke layanan keuangan (unbanked) atau belum terlayani (underserved).

(Baca: Babak Baru Pertarungan Gojek dan Grab di Tiga Layanan)

Sedangkan kontribusi layanan berbagi tumpangan kurang dari 30% terhadap total transaksi bruto Gojek. “Kami adalah perusahaan yang mengutamakan pengguna dan melihat semuanya dari perspektif pengguna,” kata dia.

Sebelumnya, Andre mengatakan bahwa perusahaannya tengah mengumpulkan pendanaan US$ 2 miliar atau sekitar Rp 28,4 triliun, yang ditarget tercapai sebelum akhir tahun ini. Gojek juga ingin memperkuat layanan pembayaran dan pesan-antar makanan.

(Baca: Pendiri Gojek Ungkap Kinerja Berbagai Layanannya, Ada yang Sudah BEP)

Di lain kesempatan, Chief Food Officer Gojek Group Catherine Hindra Sutjahjo mengklaim bahwa GoFood menguasai 75% pasar di Asia Tenggara. Hal ini mengacu pada tiga kajian. Pertama, berdasarkan laporan App Annie, pengguna GoFood 1,5 kali lebih banyak dibanding pesaing.

Kedua, kajian Nielsen menunjukkan bahwa konsumen di Indonesia lebih banyak memilih GoFood. Ketiga, survei internal Gojek menyebutkan bahwa layanan GoFood dinilai lebih berkontribusi terhadap pertumbuhan bisnis mitra.

“Kenapa kami berani sebut 75%? Itu berdasarkan jumlah order dan rerata nilai pesanan by basket size. Kalau dihitung berdasarkan jumlah yang dibayarkan konsumer sebelum promo, itu bukan angka real. Jadi, kami sebut 75% itu angkanya real,” kata dia di Jakarta, beberapa waktu lalu (19/9).

(Baca: Potensinya Besar, Gojek dan Grab Akan Bersaing di Bisnis Cloud Kitchen)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan