Tiongkok Tolak Bahas Isu Transfer Teknologi, Rupiah Kembali Melemah

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Happy Fajrian

10/10/2019, 09.34 WIB

Isu transfer teknologi merupakan salah satu isu yang paling krusial dalam perang dagang AS-Tiongkok.

nilai tukar rupiah, rupiah melemah,
ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali melemah seiring negosiasi dagang AS-TIongkok kembali berpotensi gagal mencapai kesepakatan. Pasalnya, Tiongkok menolak untuk membahas isu yang paling krusial yakni terkait kewajiban transfer teknologi bagi perusahaan AS yang berbisnis di Tiongkok.

Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini, Kamis (9/10). Mengutip Bloomberg, rupiah ditransaksikan pada level Rp 14.179 per dolar AS atau turun 0,04% dibanding penutupan kemarin sore di level Rp 14.172 per dolar AS.

Adapun mata uang Asia lainnya pagi ini bergerak bervariasi. Yen Jepang dan rupee India terpantau melemah bersama mata uang Garuda. Yen melemah satu poin sedangkan rupee melemah 0,07% terhadap dolar AS.

Sementara mayoritas mata uang Asia lainnya menunjukkan penguatan terhadap mata uang negeri Adidaya tersebut. Dolar Hongkong menguat 0,01%, dolar Singapura 0,12%, dolar Taiwan 0,66%, won Korea Selatan 0,22%, peso Filipina 0,12%, yuan Tiongkok 0,16%, ringgit Malaysia 0,05%, dan baht Thailand 0,22%.

Vice President Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menilai, hingga kini kekhawatiran pasar mengenai negosiasi dagang masih tinggi. "Tadi pagi ada kabar dari koran Tiongkok bahwa negosiasi berjalan di tempat," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Kamis (9/10).

(Baca: Negosiasi Dagang Buntu Karena Tiongkok Enggan Bahas Transfer Teknologi)

Dalam laporan tersebut, delegasi Tiongkok menolak membahas isu kewajiban melakukan transfer teknologi bagi perusahaan AS yang berbisnis di Tiongkok. Isu ini tentunya sangat penting untuk AS lantaran isu ini masih menjadi penghalang bagi tercapainya kesepakatan dagang kedua negara tersebut.

Langkah kewajiban transfer teknologi merupakan cara agar perusahaan yang bermitra dengan perusahaan asal AS bisa berkembang dan maju. Hal tersebut sebelumnya diklaim sebagai salah satu kerisauan perunding dari AS.

Sebagaimana diketahui, kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut akan bertemu pada Kamis hingga Jumat 10-11 Oktober 2019. Namun Ariston mengatakan bahwa telah beredar kabar bahwa negosiasi tersebut hanya akan berlangsung satu hari saja.

Sedangkan delegasi Tiongkok akan langsung pulang pada hari Kamis. "Namun, Gedung Putih langsung membantah hal ini," ucap dia. Mengikuti perkembangan isu ini, harga instrumen keuangan bergerak volatil. Sehingga Ariston memprediksi rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp 14.100 - 14200 per dolar AS.

(Baca: Perang Dagang AS - Tiongkok Memanas, Rupiah Melemah Tipis)

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan