Potensi Bisnis Uang Kripto di Mata PayPal dan Grab

Penulis: Cindy Mutia Annur

Editor: Agustiyanti

6/11/2019, 21.34 WIB

PayPal baru-baru ini mundur dari proyek uang digital besutan Facebook, Libra. Sementara, Grab belum berminat mengikuti Go-Jek masuk bisnis uang kripto.

Bitcoin
Katadata
Ilustrasi cryptocurrency.

Bisnis mata uang kripto (cryptocurrency ) tengah marak dikembangkan oleh berbagai perusahaan digital, salah satunya Facebook melalui Libra. Namun, sebenarnya bagaimana potensi bisnisnya?

Global Head Strategy Pay Pal Alfonso Villanueva mengatakan, sebenarnya Libra merupakan pendekatan yang menarik. yakni menggunakan cryptocurrency berbasis teknologi blockchain. Uang digital ini juga bertujuan untuk meningkatkan inklusi keuangan dan ekonomi digital.

"Namun, saat ini cryptocurrency bukan aset yang kami pertimbangkan untuk menjadi currency (mata uang)," ujar Alfonso di acara Perbanas Indonesia Banking Expo (IBEX) 2019 di Jakarta, Rabu (6/11).

Menurut Alfonso, uang digital tersebut menghadapi tantangan dari sisi regulasi. Oleh karena itu, pihaknya memilih mundur dari proyek besutan Fecebook itu.

 "Mata uang digital ini memberikan akses ke ekonomi digital. Namun, kami memahami bahwa Libra masih memiliki tantangan dari segi implementasi regulasi.  Jadi ini bukan saat yang tepat untuk ini (melanjutkannya)," ujarnya. 

(Baca: 6 Perusahaan Besar Tinggalkan Proyek Mata Uang Digital Facebook)

Dalam kesempatan yang sama, Senior Managing Director of Grab Financial Group Reuben Lai mengatakan bisnis cryptocurrency sebenarnya cukup menarik. Namun, saat ini perusahaan belum mempunyai rencana untuk merambah bisnis tersebut. Ia pun enggan menjelaskan secara rinci alasannya.

"Kami belum ada rencana, saat ini kami hanya mempelajarinya (bisnis modelnya)," ujar Reuben.

Sebelumnya Gojek memutuskan berinvestasi ke penyedia layanan dompet digital berbasis blockchain asal Filipina, Coins.ph. Go-Pay akan menggabungkan keahlian teknologi, skalabilitas, dan pengalamannya dengan sistem blockchain dari Coins.ph. Namun, kedua perusahaan belum mau menyampaikan secara rinci kemitraan ini.

Pendiri dan CEO Coins.ph Ron Hose menyampaikan, kedua perusahaan berbagi visi yang sama yakni memberdayakan pelanggan dengan biaya murah dan akses yang lebih nyaman. "Kami dapat memberi masyarakat Filipina lebih banyak kenyamanan, pilihan, dan akses ke layanan yang mereka inginkan," ujarnya, dikutip dari e27, Jumat (18/1).

(Baca: Gojek Gandeng Startup Blockchain untuk Hadirkan Go-Pay di Filipina)

Coins.ph memungkinkan siapa pun, termasuk yang tidak memiliki rekening bank (unbanked) untuk mengakses layanan keuangan mereka dari ponsel. Layanan yang bisa dinikmati seperti pengiriman uang, pembayaran tagihan, dan belanja online di lebih dari 100 ribu pedagang.

Coins.ph menyebutkan, sudah memiliki lebih dari lima juta pelanggan kurang dari lima tahun. Sementara transaksinya bisa  mencapai lebih dari enam juta transaksi per bulan, per Desember 2018.

Sementara itu, CEO Go-Pay Aldi Haryopratomo mengatakan perilaku transaksi konsumen di Indonesia dan Filipina memiliki banyak kesamaan. "Kami berharap memiliki kesuksesan yang sama dalam mempercepat pembayaran tanpa uang tunai di Filipina," katanya.

Reporter: Cindy Mutia Annur

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan