Bangun Pabrik Bahan Baku Ban, Cabot Indonesia Investasi Rp 1,3 T

Penulis: Tri Kurnia Yunianto

Editor: Ekarina

21/11/2019, 18.53 WIB

Dengan investasi ini, pemerintah berharap bisa menekan impor bahan baku ban hingga Rp 1,5 triliun per tahun.

ilustrasi beberapa pekerja di pabrik ban vulkanisir. Perusahaan serat karbon hitam (black carbon) PT Cabot Indonesia meralisasikan investasi Rp 1,3 triliun untuk membangun pabrik bahan baku ban di Cilegon, Banten.
ANTARA FOTO/Aji Styawan
ilustrasi beberapa pekerja di pabrik ban vulkanisir. Perusahaan serat karbon hitam (black carbon) PT Cabot Indonesia meralisasikan investasi Rp 1,3 triliun untuk membangun pabrik bahan baku ban di Cilegon, Banten.

Perusahaan serat karbon hitam (black carbon) PT Cabot Indonesia meralisasikan investasi Rp 1,3 triliun untuk menambah fasilitas produksi pabrik di Cillegon, Banten. Dengan investasi ini, pemerintah berharap bisa menekan impor bahan baku ban hingga Rp 1,5 triliun per tahun. 

Pada fasilitas barunya nanti, anak usaha Cabot Corporation Amerika Serikat ini akan memproduksi karbon hitam atau bahan baku ban sebanyak 80.000-90.000 ton per tahun dan masterbatch sekitar 20.000 ton. Pabrik ini ditargetkan rampung dan siap beroperasi pada 2021.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, saat ini total kebutuhan karbon hitam (bahan baku ban) di dalam negeri mencapai 230-240 ribu ton per tahun. Namun, dari total kebutuhan tersebut 70% masih berasal dari impor, seperti dari Tiongkok dan dan India.

(Baca: Investasi US$ 36 M, AS Klaim Jadi Negara Penanam Modal Terbesar di RI)

Dengan dibangunnya fasilitas produksi karbon hitam ini, dia berharap dapat memangkas ketergantungan impor karbon hitam sehingga dapat menekan defisit neraca perdagangan dalam negeri.

"Beroperasinya pabrik Cabot juga diharapkan dapat mensubstitusi impor karbon hitam  sebesar 90.000 ton per atau setara Rp1,5 triliun per tahun," ujar Agus  saat peletakan batu pertama pembangunan pabrik PT Cabot Indonesia di Cilegon, Banten, Kamis (21/11).

Tak hanya itu, pabrik baru tersebut juga diperkirakan bakal menyerap 200-300 tenaga kerja pada fase pertama.

Lebih lanjut, Agus menjelaskan sektor perindustrian saat ini dituntut menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional. Sebab, sektor industri berperan penting dalam menciptakan nilai tambah, devisa dan penyerapan tenaga kerja. 

Industri pengolahan non-migas merupakan penyumbang terbesar terhadap PDB nasional yang mencapai 17,36% atau sekitar Rp. 509,38 triliun. Industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia pada 2018 mencapai Rp 166,89 triliun dan triwulan II 2019 sebesar Rp 63,88 triliun. 

(Baca: Investasi Rp 519 T, Sri Mulyani Beri Libur Pajak ke 44 Perusahaan)

Nilai ekspor Industri Kimia pada tahun 2018 sebesar US$ 8,79 miliar sedangkan nilai impor bahan kimia mencapai US$ 22,54 miliar dengan total investasi di sektor industri kimia mencapai Rp 26,2 triliun. 

"Pemerintah menyambut baik dari perluasan pabrik. Ini juga merupakan kerja sama anatara pemerintah dan industri," kata dia.

Managing Director Cabot Asia Pasific dan President Cabot Indonesia, Dixy Olyviardy menjelaskan dengan ekspansi produksi yang dilakukan perusahaannya akan mampu meningkatkan produksi 30 juta ban baru setiap tahun. Proyek itu ditargetkan rampung dikerjakan dua tahun mendatang.

" Pak Menteri menantang kami untuk menyelesaikan pabrik ini pada  2021," kata dia.

Perluasan fasilitas produksi di Cilegon ini merupakan bagian proyek peningkatan kapasitas dan debottlenecking global yang telah diumumkan pada Mei 2018. Peningkatan kapasitas ini memungkinkan Cabot untuk mendukung pertumbuhan industri ban dan karet, serta karbon khusus di seluruh dunia.

Cabot telah mencatat peningkatan kapasitas produksi carbon black secara global sebesar 300 ribu metrik ton, dan akan mencapai target setelah proses commissioning dari fasilitas produksi baru ini rampung.

Indonesia masih memiliki daya tarik sebagai negara tujuan investasi menurut penilaian Economist dan IMF. Ini tercermin dari masih tingginya minat investor untuk menanamkan dananya di tanah air.

Berdasarkan penilaian IMD World Competitiveness, peringkat daya saing Indonesia naik 11 peringkat ke posisi 32 pada 2019. Investasi di Indonesia pun masih dinilai masih cukup menarik di antara negara Asia lain, seperti yang tergambar dalam databoks berikut. 

Reporter: Tri Kurnia Yunianto

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan